Jumat 13 Mar 2026 23:01 WIB

CENTCOM Akui Enam Tentara AS Tewas Akibat 'Jatuhnya' Pesawat KC-135

Sebanyak 13 tentara AS tewas sepanjang agresi ke Iran.

Pesawat pengisi bahan bakar KC-135 milik Angkatan Udara AS sedang beroperasi.
Foto: Dok USAF
Pesawat pengisi bahan bakar KC-135 milik Angkatan Udara AS sedang beroperasi.

REPUBLIKA.CO.ID, BAGHDAD – Keenam awak pesawat tanker militer Amerika Serikat (AS) KC-135 AS yang jatuh di Irak barat kemarin telah dipastikan tewas. Ini menambah panjang deretan pasukan AS yang tewas dalam agresi ke Iran.

Hal ini disampaikan Komando Pusat AS (CENTCOM) dalam pembaharuannya pada hari Jumat. Mereka sebelumnya mengatakan bahwa hanya empat dari enam orang yang tewas.

Baca Juga

Komando Pusat juga menekankan bahwa kecelakaan itu bukan disebabkan oleh tembakan musuh atau salah tembak. Sementara Perlawanan Islam di Irak mengatakan mereka yang menembak jatuh pesawat tersebut.

Identitas anggota yang meninggal dan keluarganya dapat diberitahukan, kata Centcom. Pesawat ini merupakan pesawat AS keempat yang hilang sejak AS dan Israel mulai melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari. 

Tiga jet tempur angkatan udara AS secara keliru ditembak jatuh dalam insiden tembakan persahabatan yang dilakukan oleh pertahanan udara Kuwait awal bulan ini. Semua awak jet tersebut berhasil keluar dengan selamat. 

Dengan kematian terkini, 13 tentara AS tewas dalam agresi tersebut, sementara sebanyak 150 tentara AS terluka. 

photo
Tim pembawa Angkatan Darat AS memindahkan jenazah tentara AS yang tewas akibat balasan Iran di Pangkalan Angkatan Udara Dover, Delaware, AS, 9 Maret 2026. - (EPA/JASON MINTO/US AIR FORCE)

Enam personel militer AS tewas ketika pesawat tak berawak Iran menyerang pusat operasi di pelabuhan sipil di Kuwait. Mereka berada di Cadangan Angkatan Darat dan bekerja di bidang logistik, menjaga pasokan makanan dan peralatan bagi pasukan.

Jumlah korban jiwa di Iran lebih dari 1.300, menurut duta besar negara tersebut untuk PBB. 

Baik Donald Trump maupun Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, telah memperingatkan bahwa perang Iran mungkin akan merenggut lebih banyak nyawa orang Amerika sebelum konflik tersebut berakhir.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement