REPUBLIKA.CO.ID, KUALA LUMPUR -- Malaysia menerapkan kebijakan penghematan belanja negara atau mengencangkan ikat pinggang untuk mengantisipasi dampak geopolitik bagi negaranya. "Pemerintah (Malaysia) melaksanakan langkah awal penghematan dalam belanja negara," kata Perdana Menteri (PM) Malaysia Anwar Ibrahim, dalam keterangan media yang dikutip di Kuala Lumpur, Kamis (12/3/2026).
Penghematan itu termasuk meniadakan gelar griya (open house) Idul Fitri oleh kementerian, lembaga pemerintah, dan Government-Linked Company (GLC), serta membatasi kunjungan luar negeri oleh anggota kabinet.
Anwar mengatakan konflik yang semakin memanas di Asia Barat mulai berdampak pada perekonomian dunia melalui gangguan rantai pasok energi serta lonjakan harga minyak global yang memicu ketidakpastian pasar.
Sebagai negara dengan ekonomi perdagangan terbuka, lanjut Anwar, Malaysia tidak terlepas dari dampak perkembangan geopolitik. Seperti menghadapi risiko kenaikan biaya transportasi, tekanan terhadap harga barang, serta tantangan terhadap stabilitas ekonomi.
Meskipun demikian, katanya, dalam situasi saat ini pemerintahannya memilih untuk mengambil langkah sulit dengan mempertahankan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis RON 95 di harga 1,99 ringgit (Rp 8.584) per liter di tengah kenaikan harga minyak dunia. Kebijakan itu demi menjaga kepentingan rakyat.
Anwar menyatakan pemerintahannya akan terus memantau secara ketat perkembangan konflik global dan mengambil langkah tambahan guna memastikan stabilitas ekonomi negara tetap terjaga serta melindungi kesejahteraan rakyat.
Sebelumnya akhir pekan lalu Anwar menyampaikan pesan ke masyarakat Malaysia untuk berhemat dan berhati-hati dalam pengeluaran, sebagai langkah antisipasi untuk menghadapi kemungkinan ketidakpastian ekonomi global. "Saya bertanggung jawab untuk mengingatkan Anda agar berhati-hati. Jika bisa menabung selama bulan puasa, jangan menghambur-hamburkan uang secara sembarangan selama hari raya," kata Anwar.
Menurut Anwar mengatakan meskipun untuk sementara situasi saat ini terkendali, namun antisipasi tetap diperlukan. "Karena kita tidak bisa memprediksi berapa lama situasi (gejolak) ekonomi akan berlangsung. Bijaklah dalam mengelola ekonomi, jika krisis seperti itu datang, tidak akan mudah bagi kita untuk menyelesaikannya. Masyarakat harus sadar dan saling membantu. Semoga Allah memberi kita kekuatan," ujarnya.
View this post on Instagram