Sabtu 21 Feb 2026 10:20 WIB

Warga Gaza: Board of Peace adalah Kebohongan

Warga Gaza memertanyakan mengapa BoP tak mampu membuat Israel taati gencatan senjata.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Fitriyan Zamzami
Kerabat dua gadis yang syahid dibunuh Israel di Jalur Gaza berkabung di dalam Rumah Sakit Nasser menyusul serangan udara Israel di sebelah barat Khan Younis di Jalur Gaza selatan, 4 Februari 2026.
Foto: EPA/HAITHAM IMAD
Kerabat dua gadis yang syahid dibunuh Israel di Jalur Gaza berkabung di dalam Rumah Sakit Nasser menyusul serangan udara Israel di sebelah barat Khan Younis di Jalur Gaza selatan, 4 Februari 2026.

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA -- Sejumlah warga Palestina di Jalur Gaza masih skeptis bahwa Dewan Perdamaian bentukan Presiden AS Donald Trump akan mampu mengakhiri penderitaan dan melepaskan mereka dari cengkeraman kontrol Israel. Hal itu tak terlepas dari partisipasi atau keanggotaan Israel dalam dewan tersebut. 

Jamal Abu Makhdeh (66 tahun), warga Gaza yang kini tinggal di kamp pengungsian di Deir el-Balah adalah salah satu yang meragukan Dewan Perdamaian. Hal itu termasuk rencana mereka merekonstruksi Gaza. 

 

"Mereka tidak akan melakukan apa pun untuk Gaza. Itu semua bohong. Apa pun yang disetujui Israel tentu tidak akan menguntungkan kami” kata Abu Makhdeh, dikutip laman Aljazirah, Jumat (20/2/2026). 

 

“Trump, bersama dengan Israel, ingin menggunakan Dewan Perdamaian untuk memaksakan keputusan mereka kepada dunia dengan paksa. Ini tentang kekuasaan, kendali, dan dominasi, tanpa memperhatikan negara-negara yang lebih lemah seperti kami,” tambahnya.

 

Awad al-Ghoul (70 tahun), warga Gaza yang mengungsi dari Tal as-Sultan di Rafah dan kini tinggal di tenda di kota az-Zawayda, turut meragukan Dewan Perdamaian bentukan Trump. Hal itu karena dia melihat bagaimana Israel masih membombardir Gaza hingga kini. Padahal gencatan senjata telah disepakati sejak Oktober 2025 lalu. 

photo
Ledakan terlihat saat Israel melancarkan serangan udara yang menargetkan kamp pengungsi Ghaith di daerah Al-Mawasi sebelah barat Khan Younis, Jalur Gaza Selatan, Sabtu (31/1/2026). Setidaknya 12 orang syahid dalam serangan udara Israel di Gaza. - (EPA/HAITHAM IMAD)

 

“Israel membunuh, membom, melanggar perjanjian gencatan senjata setiap hari dan memperluas zona penyangga tanpa ada yang menghentikannya,” ujar al-Ghoul. 

 

Dia pun mempertanyakan peran Dewan Perdamaian. "Jika Dewan Perdamaian sebesar ini tidak dapat memaksa Israel menghentikan serangannya di tempat kecil seperti Gaza, bagaimana dewan itu akan menyelesaikan konflik di seluruh dunia?” kata al-Ghoul, merujuk pada niat Trump yang menyatakan bahwa Dewan Perdamaian tidak hanya akan berupaya mengatasi konflik di Gaza, tapi juga konflik-konflik internasional lainnya.

 

Al-Ghoul pun telah mendengar soal dana bantuan yang dijanjikan Dewan Perdamaian untuk Gaza. Dalam pertemuan perdana Dewan Perdamaian di Washington pada Kamis (19/2/2026), Trump mengatakan bahwa sembilan negara anggota telah menjanjikan 7 miliar dolar AS untuk dana rekonstruksi Jalur Gaza. 

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement