Jumat 29 Aug 2025 19:03 WIB

PBB: Hampir Setengah Misi Bantuan di Gaza Dihambat Israel

Laporan OCHA ungkap bantuan kemanusiaan di Gaza terkendala serius.

Warga Palestina berjuang untuk mendapatkan makanan dan bantuan kemanusiaan dari belakang truk saat bergerak di sepanjang koridor Morag dekat Rafah, di Jalur Gaza, Senin, 4 Agustus 2025.
Foto: AP Photo/Mariam Dagga
Warga Palestina berjuang untuk mendapatkan makanan dan bantuan kemanusiaan dari belakang truk saat bergerak di sepanjang koridor Morag dekat Rafah, di Jalur Gaza, Senin, 4 Agustus 2025.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Kamis (28/8/2025) menyatakan hampir setengah dari misi bantuan kemanusiaan di Jalur Gaza dalam sepekan terakhir diblokir, dihambat, atau ditunda oleh Israel. Mengutip laporan Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), juru bicara PBB Stephane Dujarric mengatakan penyaluran bantuan masih menghadapi hambatan besar.

“Penundaan dan hambatan terhadap bantuan kemanusiaan di Gaza masih berlanjut, dengan penyaluran bantuan yang disetujui oleh otoritas Israel tetap membutuhkan waktu berjam-jam untuk dapat diselesaikan,” ujarnya.

Baca Juga

“Banyak tim dibiarkan menunggu di jalanan yang sering kali berbahaya, padat, atau tidak dapat dilalui,” imbuhnya.

Dujarric mencatat dari 89 upaya koordinasi penyaluran bantuan dengan otoritas Israel di Jalur Gaza, hanya 59 persen yang berhasil difasilitasi antara Rabu dan Selasa lalu.

“Sebanyak 26 persen lainnya awalnya disetujui tetapi kemudian dihambat di lapangan; 8 persen ditolak langsung, dan 7 persen harus ditarik oleh penyelenggara,” kata dia.

Ia menyebut dari 23 misi penyaluran yang terhambat, lima di antaranya akhirnya dapat dilaksanakan, termasuk misi pengambilan pasokan dari penyeberangan serta evakuasi pasien. Namun, 18 lainnya gagal dilaksanakan.

Terkait kondisi kemanusiaan, Dujarric menyatakan PBB sangat prihatin dengan risiko serangan Israel yang akan datang di wilayah lain Kota Gaza.

“Dampak serangan besar-besaran akan sangat dahsyat, tidak hanya bagi mereka yang berada di kota itu, tetapi juga bagi seluruh Jalur Gaza,” tegasnya.

Menurutnya, tim pelacakan populasi PBB melaporkan sekitar 1.300 orang melarikan diri dari Gaza utara ke selatan pada Senin dan Selasa lalu. Dengan demikian, total pergerakan dari utara ke selatan sejak 14 Agustus, ketika rencana ofensif Israel diumumkan, telah mencapai 20 ribu orang.

Secara keseluruhan, sekitar 60 ribu orang tercatat mengungsi dari Kota Gaza.

“Di seluruh Jalur Gaza, ratusan ribu keluarga masih hidup dalam kondisi berhimpitan, tidak bermartabat, dan tidak aman di lokasi pengungsian,” imbuhnya.

 

sumber : ANTARA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement