REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Karta Raharja Ucu
Nama Kwitang, Senen, Jakarta Pusat, kini berada di top pencarian lantaran kasus meninggalnya driver ojol yang ditabrak kendaraan polisi saat demo DPR di Jakarta, Kamis (29/8/2025) malam. Massa ojol mengepung dan menyeruduk Mako Brimob yang letaknya berada di wilayah sekitar Kwitang, Senen.
Bicara Kwitang, wilayah ini dulu harum karena ramainya umat Islam yang menuntut ilmu di majelis taklim Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi (1870–1968), seorang ulama karismatik keturunan Hadramaut. Wilayah ini memang menyimpan lapisan sejarah panjang, dari masa kolonial Belanda, menjadi wilayah perdagangan, hingga menjadi pusat pertemuan budaya dan intelektual di abad ke-20.
Di era sekarang, masyarakat Jakarta mengenal nama Kwitang karena menjadi kawasan perdagangan buku bekas yang legendaris. Sejarawan Adrian B. Lapian dalam bukunya Sejarah Jakarta Lama menyebut nama Kwitang berasal dari penyebutan masyarakat terhadap para pendatang asal Tionghoa dari daerah Tinghoa-Kwee Thang. "Orang-orang Tionghoa yang bermukim di kawasan ini membawa identitas daerah asalnya, sehingga lama-kelamaan nama itu melekat menjadi Kwitang," tulis Adrian.
Saya juga pernah mendapatkan cerita dari wartawan senior Alwi Shahab Rahimahullah. Beliau merupakan cucu dari Habib Ali dan pernah hidup serta tinggal bersama Habib Ali. Habib Ali mendirikan Majelis Taklim Kwitang yang kemudian dikenal luas di seantero Nusantara. Dari pengajiannya yang diadakan setiap Ahad pagi, ribuan orang dari berbagai penjuru datang untuk menimba ilmu. Majelis ini bahkan menjadi rujukan banyak tokoh nasional, termasuk Presiden Soekarno yang pernah menghadiri pengajian di sana.
Alwi Shahab merawikan, sejak kecil dia menyaksikan bagaimana ramainya majelis taklim Habib Ali didatangi jamaah. "Habib Ali juga dikenal sebagai Habib Kwitang," ujar Alwi Shahab yang meninggal dunia pada 17 September 2020.
Abah Alwi, begitu dia biasa disapa juga sempat menulis di dalam buku "Betawi: Queen of the East" tentang asal usul Kwitang. Menurut Abah Alwi, Kwitang berasal dari nama marga seorang imigran Tionghoa, “Kwee Tang,” yang menetap di kawasan itu pada abad ke-18. Penyebutan ini kemudian berubah di lidah masyarakat menjadi “Kwitang.”
Sejak awal Kwitang merupakan ruang pertemuan budaya: antara penduduk asli Betawi, orang-orang Tionghoa, serta kaum pendatang dari berbagai wilayah Nusantara. Di era kolonial, Kwitang mulai dikenal dalam peta Batavia sejak abad ke-18. Letaknya yang berada di tepi Kali Ciliwung, menjadikan kawasan ini bagian dari jaringan kampung-kampung yang tumbuh di sekitar sungai. Sungai kala itu adalah urat nadi transportasi dan perdagangan.
Menurut catatan Jacob Theodoor Verhoeven dalam arsip kolonial Hindia Belanda, kawasan Kwitang sempat dijadikan tempat tinggal beberapa keluarga Eropa kelas menengah pada abad ke-19. Mereka membangun rumah-rumah besar bergaya Indis, dengan pekarangan luas. Namun karena pesatnya perkembangan di Batavia, kawasan itu berubah menjadi kampung padat yang dihuni masyarakat Betawi dan Tionghoa.
Kwitang juga menjadi tempat strategis lantaran dekat dengan Pasar Senen. Pada abad ke-19, wilayah ini menjadi salah satu pasar terbesar di Batavia. Akses dari dan ke pasar Senen membuat Kwitang berkembang menjadi wilayah perdagangan kecil, tempat orang menjual hasil bumi, pakaian, hingga barang-barang impor.
Di awal abad ke-20, dalam karya klasik The Ethnic Profile of Jakarta, penulis Lance Castle menyebut kawasan ini berkembang menjadi salah satu pusat intelektual. Di sinilah kemudian lahir tradisi perdagangan buku yang kelak dikenal dengan sebutan “Buku Kwitang.”
Perdagangan buku di sini pun bertahan hingga awal 2000-an. Tempat ini menjadi surga bagi para pecinta buku dengan deretan kios buku bekas memenuhi trotoar sepanjang Jalan Kwitang. Buku-buku yang dijual sangat beragam, mulai dari literatur Belanda zaman kolonial, buku teks pelajaran, hingga karya sastra dunia. Tak heran bukan hanya pelajar dan mahasiswa saja yang mencari buku di sini, Kwitang menjadi saksi pertemuan generasi intelektual Indonesia karena wartawan, sastrawan, hingga politisi juga mencari ilmu sini. Sayangnya, tak hanya buku bekas, Pasar Buku Kwitang juga menjual buku-buku bajakan.