Ahad 06 Apr 2025 09:17 WIB

Sejarah Brutal Brigade Golani, Pasukan Pembunuh Paramedis di Gaza

Brigade Golani babak belur dihajar pejuang Palestina dalam perang terkini.

Rep: Fitriyan Zamzami/ Red: Fitriyan Zamzami
Anggota Brigade Golani dengan panji kuning berbaris di perbatasan Israel-Gaza.
Foto: IDF
Anggota Brigade Golani dengan panji kuning berbaris di perbatasan Israel-Gaza.

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA – Militer Israel akhirnya mengakui pembantaian yang mereka lakukan terhadap belasan pekerja medis dan tanggap darurat di Rafah, Jalur Gaza. Para pembantai disebut berasal dari Brigade Golani yang terkenal brutal dan mengalami kerugian signifikan selama serangan ke Gaza.

Markas pasukan penjajahan Israel mulanya menyangkal bahwa mereka menyerang petugas medis pada 23 Maret lalu. Namun, video yang ditemukan di ponsel salah satu syuhada mementahkan klaim tersebut.

Baca Juga

Mereka mengakui, Pasukan Brigade Golani di lokasi kejadian melakukan penyergapan di dekat jalan dua jam sebelum kejadian, dan mengamati ambulans berhenti dan penumpangnya segera keluar. Pasukan tersebut, yang mengeklaim bahwa Hamas menggunakan ambulans, merasakan ancaman langsung dan yakin bahwa mereka sedang diserang. 

Mereka kemudian melepaskan tembakan membabi buta dan mengeksekusi para petugas tanggap darurat dari jarak dekat. Tak hanya itu, mereka juga mengubur para korban dalam satu lubang beserta kendaraan mereka.

Seorang petugas penyintas kejadian itu menerangkan, seorang perwira sampai terkejut dengan kegilaan tersebut. “Kalian orang gila! Bukan begini cara berkomunikasi,” kata perwira itu dikutip Munther Abed, seorang sukarelawan Bulan Sabit Merah yang selamat dari pembantaian.

Kekejaman pasukan elite Israel, Brigade Golani sudah terkenal sejak awal pembentukan negara Zionis tersebut. Belakangan brigade itu kembali ke Gaza setelah sempat mundur dari Jalur Gaza setelah mengalami kerugian hebat.

Pada 1948, selepas negara Zionis Israel didirikan, militer mereka yang baru dibentuk menjalankan Operasi Hiram. Operasi ini adalah bagian dari pembersihan etnis Arab Palestina yang sudah direncanakan sejak sebelum Israel didirikan.

David Ben-Gurion, perancang utama pembersihan etnis memerintahkan operasi itu pada September 1948. “Wilayah Galilea (Al Jalil) harus bersih dan dikosongkan Arab-nya,” kata dia kala itu. Wilayah tersebut meliputi bagian utara wilayah jajahan Israel dan selatan Lebanon saat ini.

Operasi tersebut dilancarkan pada malam 28-29 Oktober 1948, dengan mengerahkan empat brigade pasukan penjajah Israel (IDF). Diantaranya Brigade Ketujuh, Brigade Carmeli, Brigade Golani, dan Brigade Oded.

Sejumlah pembunuhan massal dijalankan dalam operasi yang merebut puluhan desa Arab tersebut. Brigade Golani setidaknya terlibat pada empat diantaranya.

Yang paling mengemuka adalah pembantaian di desa Eliabun yang dihuni umat Kristiani Palestina. Kala itu, setelah pertempuran di luar desa yang mengakibatkan enam tentara Israel terluka dan empat mobil lapis baja Israel hancur, Batalyon 12 Brigade Golani, memasuki desa pada 30 Oktober 1948 dan penduduknya menyerah. 

photo
Pasukan Israel dalam operasi pembersihan desa-desa Arab di wilayah jajahan Beersheba pada 1948. - (wikimedia commons)

Morris Benny dalam bukunya The Birth of the Palestinian Refugee Problem Revisited (2004) menuliskan bahwa penduduk desa mengibarkan bendera putih dan dikawal oleh empat pendeta setempat. Sebagian besar penduduk desa bersembunyi di dua gereja. Namun para prajurit Golani marah karena kekalahan dalam pertempuran.

Menurut surat dari tetua desa, satu warga desa gugur dan lainnya terluka akibat tembakan IDF saat berkumpul atas perintah IDF di alun-alun desa. Komandan IDF kemudian memilih 12 pemuda untuk dieksekusi. Ia juga memerintahkan agar 800 penduduk yang berkumpul dibawa ke dekat Maghar. Seorang lelaki tua lainnya gugur akibat tembakan dari mobil lapis baja di jalan. Sekitar 42 pemuda ditahan di kamp penahanan, dan penduduknya diusir ke Lebanon.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement