REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Sejumlah data dari berbagai pihak menunjukkan bahwa jumlah masyarakat yang mudik pada momen Lebaran 2025/1446 H mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi ekonomi menjadi salah satu faktor yang menyebabkan masyarakat memilih tidak pulang ke kampung halaman.
Peneliti Inisiatif Strategis untuk Transportasi Darmaningtyas mengatakan, penurunan jumlah pemudik pada 2025 sudah diprediksi sejak sebelum puasa, atau ketika pemerintah menerapkan kebijakan efesiensi anggaran. Menurut dia, dampak efisiensi anggaran sangat luas dan berpenggaruh terhadap minat warga untuk melakukan mudik Lebaran.
Ia menilai, para ASN muda yang masih punya tanggungan pasti memilih tidak mudik. Pasalnya, mereka tidak mendapatkan tambahan penghasilan selama tiga bulan terakhir, baik dari perjalanan dinas ataupun kegiatan seremonial, dan konsultansi.
"Mereka lebih baik mengefiensikan pendapatannya untuk membayar cicilan rumah dan kendaraan, sehingga memilih tidak mudik," kata dia.
Sementara itu, banyak perusahaan melakukan PHK di sektor swasta. Alhasil, hotel dan tempat tempat hiburan menjadi sepi penggunjung."Ini dampaknya pada turunnya kesejahteraan karyawan, sehingga mereka tidak bisa mudik, mereka lebih baik menghemat pendapatnya untuk kelangsungan hidup berikutnya sambil menunggu kepastian nasib mereka," ujar dia.
