REPUBLIKA.CO.ID, GAZA — Meski sudah dibombardir IDF, ditambah dengan penerapan kelaparan di Gaza, Hamas menyatakan akan terus memperjuangkan hak kemerdekaan dan kedaulatannya. Gerakan perlawanan itu menyatakan tidak akan menyerah.
Suhail al-Hindi, anggota Biro Politik Gerakan Perlawanan Islam (Hamas), menegaskan bahwa gerakan itu tidak akan mengibarkan bendera putih, dan menekankan bahwa pembebasan tahanan Israel yang ditahan di Gaza hanya akan terjadi melalui kesepakatan pertukaran yang adil dan komprehensif.
Al-Hindi mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Hamas siap membebaskan tahanan Israel, tetapi hanya jika perang dihentikan, penyeberangan dibuka, dan Jalur Gaza, yang telah menderita kerusakan luas akibat operasi militer Israel yang sedang berlangsung sejak 7 Oktober, dibangun kembali.
Ia menambahkan bahwa gerakan ini mengajak dunia untuk mendukung hak-hak kemanusiaan rakyat Gaza dengan mencabut pengepungan yang dijatuhkan atas Jalur Gaza, menghentikan kebijakan kelaparan yang dialami penduduk, dan mengizinkan pengiriman bantuan kemanusiaan secara langsung dan berkala.
Pemimpin Hamas menyatakan bahwa gerakan itu menolak apa yang ia gambarkan sebagai persyaratan mustahil yang diberlakukan oleh pemerintahan Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang mencakup penyerahan senjata perlawanan dan penarikan para pemimpin gerakan dari Gaza.
Mengacu pada posisi Hamas, Al-Hindi mengatakan, "Kami tidak akan mengibarkan bendera putih," dan menekankan bahwa pembebasan tahanan Israel hanya akan terjadi melalui kesepakatan pertukaran tahanan yang menjamin pembebasan tahanan Palestina yang ditahan di penjara Israel.
Pernyataan ini muncul saat serangan militer Israel terus berlanjut di Gaza, di tengah gagalnya upaya internasional untuk mencapai gencatan senjata permanen atau perjanjian pertukaran tahanan antara kedua belah pihak.