Rabu 02 Apr 2025 10:50 WIB

Israel Sebut Makanan di Gaza Cukup, PBB: Itu Pernyataan Konyol

Keterbatasan bantuan membuat PBB sulit untuk mempertahankan operasinya.

Anak Palestina antre untuk mendapatkan makanan di kamp Khan Younis, Jalur Gaza Selatan, Sabtu (15/6/2024). Momen Idul Adha dilalui anak-anak Gaza yang berada di Khan Younis dengan ancaman bahaya kelaparan.  Menurut Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), Palestina berada di ambang krisis kelaparan, dengan 1,1 juta orang (setengah dari populasinya) mengalami bencana kerawanan pangan akibat konflik dan pembatasan akses kemanusiaan.
Foto: AP Photo/Jehad Alshrafi
Anak Palestina antre untuk mendapatkan makanan di kamp Khan Younis, Jalur Gaza Selatan, Sabtu (15/6/2024). Momen Idul Adha dilalui anak-anak Gaza yang berada di Khan Younis dengan ancaman bahaya kelaparan. Menurut Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), Palestina berada di ambang krisis kelaparan, dengan 1,1 juta orang (setengah dari populasinya) mengalami bencana kerawanan pangan akibat konflik dan pembatasan akses kemanusiaan.

REPUBLIKA.CO.ID, HAMILTON -- Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut klaim Israel soal kecukupan makanan di Jalur Gaza sebagai hal yang 'konyol'. Ini karena pasokan bantuan kemanusiaan yang ada justru semakin menipis.

“Hal itu konyol. Maksud saya, kami justru sudah kehabisan pasokan bantuan kami yang tiba melalui jalur kemanusiaan,” kata Juru Bicara PBB Stephane Dujarric dalam sebuah konferensi pers, Selasa.

Baca Juga

Ia menegaskan keparahan situasi yang dihadapi membuat Program Pangan Dunia (WFP) kesulitan mempertahankan operasinya. “Anda tahu, WFP tak akan menutup toko-toko rotinya begitu saja,” kata dia.

Dujarric kemudian membantah pertanyaan soal klaim COGAT (Koordinasi Kegiatan Pemerintah di Teritori) yang dijalankan militer Israel soal masuknya 25.200 truk pembawa bantuan kemanusiaan ke Gaza selama gencatan senjata serta tuduhan bahwa bantuan tersebut diambil Hamas.

“PBB telah menjaga rantai pengawasan yang sangat baik terhadap semua bantuan yang dikirimkan,” ucap jubir PBB itu.

Dujarric lantas menyoroti perbaikan yang terjadi sepanjang gencatan senjata 6 pekan di Gaza dan mengatakan, “Kita melihat bantuan kemanusiaan melimpah di Gaza. Kita melihat pasar-pasar hidup lagi. Kita melihat harga-harga barang mulai turun.”

“Kita juga melihat para sandera dibebaskan. Kita melihat tahanan Palestina dibebaskan. Kita harus kembali ke masa seperti itu,” kata dia, menambahkan.

Serangan udara kejutan yang dilakukan Israel di Jalur Gaza sejak 18 Maret memupuskan kesepakatan gencatan senjata dan pertukaran tahanan antara pihak Zionis dan kelompok perlawanan Palestina, Hamas, yang diteken pada Januari lalu.

Serangan tersebut telah menewaskan lebih dari 1.000 orang dan melukai lebih dari 2.000 lainnya. Selain itu, sudah lebih dari 50.300 warga Gaza, sebagian besarnya wanita dan anak-anak, tewas akibat agresi Israel sejak Oktober 2023.

Pada November 2024, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk pemimpin Israel Benjamin Netanyahu dan bekas pejabat pertahanan Yoav Gallant atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.

Israel juga menghadapi kasus genosida di Mahkamah Internasional (ICJ) atas perangnya di daerah kantong Palestina tersebut.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement