Rabu 03 Apr 2024 09:16 WIB

Dituding Hasto Ingin Rebut Kursi Ketum PDIP, Jokowi: Jangan Seperti Itu

Presiden Jokowi meminta Sekjen PDIP Hasto tak melemparkan isu yang tidak benar.

Rep: Dessy Suciati Saputri/ Red: Erik Purnama Putra
Presiden Jokowi saat melepas bantuan kemanusiaan untuk Palestina dan Sudan di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Rabu (3/4/2024).
Foto: Republika/Dessy Suciati Saputri
Presiden Jokowi saat melepas bantuan kemanusiaan untuk Palestina dan Sudan di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Rabu (3/4/2024).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan tanggapannya soal tudingan Sekretaris Jenderal DPP PDIP Hasto Kristiyanto, yang menyebut dirinya berkeinginan untuk merebut kursi Ketua Umum PDIP dari tangan Megawati Soekarnoputri.

Mendengar hal itu, Jokowi lantas mempertanyakan tudingan Hasto. Hal itu mengingat, sebelumnya ia juga disebut-sebut masuk dalam bursa pencalonan ketua umum DPP Partai Golkar.

Baca Juga

"Bukan Golkar? Katanya mau ngerebut Golkar, katanya mau ngerebut masa semua mau direbutin semua," kata Jokowi saat melepas bantuan kemanusiaan untuk Palestina dan Sudan di Pangkalan TNI AU (Lanud) Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Rabu (3/4/2024).

Jokowi kemudian meminta Hasto agar tak melemparkan isu yang tidak benar. "Jangan seperti itu, jangan seperti itu," ujarnya.

 

Sebelumnya, Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto menuding, Presiden Jokowi ingin merebut kursi Ketum PDIP. Menurut Hasto, Jokowi telah memerintahkan salah seorang menteri kepercayaannya agar Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri mau menyerahkan kursi jabatannya.

Baca: Presiden Jokowi Resmi Tunjuk Marsdya Mohamad Tonny Harjono Jadi

Menteri tersebut kemudian menghubungi seorang guru besar IPDN Ryaas Rasyid untuk bertemu Mega. Kendati demikian, Hasto tidak menyebutkan siapa menteri yang dimaksud.

"Ada seorang menteri ... ini ditugaskan untuk bertemu Ryaas Rasyid oleh Presiden Jokowi. Pak Ryaas Rasyid ditugaskan untuk membujuk Bu Mega, agar kepemimpinan PDIP diserahkan kepada Pak Jokowi," kata Hasto dalam bedah buku 'NU, PNI, dan Kekerasan Pemilu 1971' di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (2/4/2024).

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement