Selasa 26 Mar 2024 16:24 WIB

Politikus PKS HNW: Film Judulnya 'Kiblat', Tapi Tayangan Horor, Tentu Kontraproduktif

Kiblat semestinya menggambarkan sesuatu yang meneduhkan.

Rep: Eva Rianti/ Red: Teguh Firmansyah
Poster film Kiblat yang telah ditarik oleh Leo Pictures. Poster dan trailer film arahan sutradara Bobby Prasetyo ini dikecam masyarakat, ulama, dan sineas.
Foto: Dok Leo Pictures
Poster film Kiblat yang telah ditarik oleh Leo Pictures. Poster dan trailer film arahan sutradara Bobby Prasetyo ini dikecam masyarakat, ulama, dan sineas.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Anggota Komisi VIII dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hidayat Nur Wahid (HNW) menanghapi ihwal film Kiblat yang belakangan ini menjadi perbincangan karena kontroversial. Menurut pandangannya, film tersebut mengandung nilai kontraproduktif dan tidak sesuai dengan budaya dan ajaran Islam. 

Hidayat berpendapat, film Kiblat tidak relevan dan bahkan bertentangan dengan esensi dari makna 'kiblat' itu sendiri yang bermakna arah dan kedamaian. Terlebih momentum kemunculan film itu adalah pada bulan Ramadhan, saat  umat Islam tengah berkidmat dalam beribadah.

 

"Di bulan Ramadhan di mana umat Islam secara umum dihadirkan dalam momentum untuk suka beribadah ke masjid pada malam hari untuk shalat tarawih, qiyamul lail, iktikaf, dan sebagainya, tiba-tiba hadir film yang judulnya sangat identik dengan keislaman 'Kiblat' tapi menghasilkan visualisasi yang horor. Itu tentu sangat kontraproduktif dan tidak sesuai judul dengan gambar yang ditampilkan," kata Hidayat saat dihubungi Republika, Selasa (26/3/2024). 

 

Menurutnya, kiblat semestinya menggambarkan tentang suatu hal yang meneduhkan dan menyenangkan, serta menguatkan spiritualitas. Hal itu tidak tercermin sama sekali di film tersebut, yang justru dalam posternya menggambarkan seseorang sedang rukuk dengan posisi kayang, ditambah sesosok tak berkepala di dekatnya.  "Tentu suatu hal yang tidak sesuai dengan filosofi dari Islam, dan apalagi shalat, apalagi kiblat," tegasnya. 

 

Di samping banyaknya kontra dari publik atau masyarakat umum hingga Majelis Ulama Indonesia (MUI), Hidayat menyebut pihak pembuat film juga tidak menyampaikan klarifikasi. Sehingga memperkuat pandangan bahwa film tersebut memang tidak produktif. 

 

Dia menegaskan, gambaran yang menyeramkan di dalam film mengenai ibadah shalat dan kiblat yang tak sesuai keyakinan itu juga memberi ruang stereotipe Islam. Menurutnya stereotipe yang disematkan pada umat Islam yang masih santer dengan 'Islam teroris'. 

 

"Ketika ada fitnah semacam ini (Islam teroris) dimunculkan, film itu justru akan menggambarkan pembenaran terhadap stereotipe islam itu. Oleh karenanya harus dikoreksi," tegasnya. 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement