Kamis 23 Nov 2023 23:18 WIB

BKKBN Soroti Tujuh Provinsi dengan Kasus Stunting Tinggi

Pemberian makanan bergizi untuk stunting harus dapat perhatian daerah.

Petugas kesehatan mengukur lingkar kepala anak usia bawah lima tahun (balita) di Posyandu, (ilustrasi).
Foto: REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA
Petugas kesehatan mengukur lingkar kepala anak usia bawah lima tahun (balita) di Posyandu, (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, PEKANBARU -- Pemerintah bersama BKKBN menyoroti tujuh provinsi dengan persentase kasus stunting tinggi untuk mencapai target yang ditetapkan Presiden Joko Widodo terkait penurunan prevalensi stunting 2024 menjadi 14 persen.

Ketujuh provinsi itu adalah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi Barat (Sulbar), Sulawesi Tengah (Sulteng), Kalimantan Selatan (Kalsel), Kalimantan Barat (Kalbar), dan Provinsi Aceh.

Baca Juga

"Strateginya, kita membuat gerakan yang langsung menyentuh anak stunting untuk pemenuhan gizi mereka, dan program itu harus terus menerus atau berkelanjutan," kata Sekretaris Utama BKKBN Riau Tavif Agus Rayanto dalam keterangannya di Pekanbaru, Kamis (23/11/2023).

Menurut Tavif, pemberian makanan bergizi untuk kasus stunting juga harus mendapat perhatian penuh di lima daerah, yakni Jateng, Jabar, DKI Jakarta, Banten, serta Sumut. Karena itu, katanya, pemerintah menetapkan 12 provinsi sebagai skala prioritas walaupun seluruh nasional tetap mendapatkan penanganan.

 

"Untuk lima provinsi, khususnya Jawa Tengah dan Jabar, persentasenya tidak tinggi, namun dengan jumlah penduduk yang tinggi, sehingga kasusnya besar secara absolut. Bila dikombinasikan antara persentase tinggi dengan jumlah penduduknya, itu sudah memberikan sumbangan sekitar 64 persen terhadap upaya penurunan prevalensi stunting secara nasional," katanya.

Ia menekankan bahwa menuju tahun 2024 untuk menurunkan prevelensi stunting sangat pendek, atau efektif kurang dari setahun, sehingga membutuhkan akselerasi jangka pendek.

Saat in,i 20 persen pernikahan kehamilan tertunda, sedangkan 80 persen menikah langsung hamil, dan 80 persen orang hamil itu dalam kondisi sehat, sehingga perlu beragam upaya pencegahan, antara lain menggiatkan sosialisasi dan advokasi melalui aplikasi elektronik siap nikah siap hamil.

"Setelah pencegahan stunting, mereka dirawat, fokus perhatian ibu hamil, dan ibu hamil harus dalam kondisi sehat, karena bisa melahirkan anak-anak yang sehat. Setelah lahir di 1.000 hari pertama kehidupan sebagai masa penting membentuk kecerdasan, kesehatan anak," ujarnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement