Jumat 17 Nov 2023 15:27 WIB

Penderita Diabetes di Jabar Naik 38 Persen Tiga Tahun Terakhir

Kepala Dinkes memperkirakan kenaikan kasus diabetes di Jawa Barat akibat pola hidup.

Rep: Muhammad Fauzi Ridwan/ Red: Ani Nursalikah
Petugas mengecek kadar glukosa atau gula darah warga.
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Petugas mengecek kadar glukosa atau gula darah warga.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Barat mengungkapkan kasus penderita diabetes di Jawa Barat mengalami tren peningkatan selama tiga tahun terakhir. Tercatat kurun waktu tahun 2021, 2022 dan 2023 naik mencapai 38 persen.

"Kenaikan penderita diabetes dari tahun 2021 sampai 2023 hampir naik 38 persen," ucap Kepala Dinkes Provinsi Jawa Barat Nina Susana Dewi di acara peringatan hari diabetes bersama RSUD Al Ihsan di Kota Bandung, Jumat (17/11/2023).

Baca Juga

Ia memperkirakan kenaikan kasus diabetes di Jawa Barat akibat pola hidup saat ini yang banyak berubah. Tidak hanya itu, masa pandemi Covid-19 yang membuat orang tidak banyak bergerak berpengaruh terhadap kenaikan kasus.

"Mungkin akibat pola hidup berubah atau karena di masa pandemi kurang pergerakan sehingga pola makanan kegiatan menyebabkan salah satunya diabetes," kata dia.

 

Namun, ia tidak merinci secara detail angka kenaikan diabetes tiap tahun di Jawa Barat. Nina menyebut penyakit diabetes merupakan tujuh penyakit yang menyebabkan angka kematian tertinggi dan pembiayaan tinggi.

Dengan kondisi tersebut, ia mengajak masyarakat lebih peduli terhadap kesehatan diri. Beberapa pencegahan yang bisa dilakukan dengan mengecek kondisi kesehatan secara berkala minimal satu bulan sekali.

Selain itu, tidak merokok, minimal 30 menit per hari melakukan aktivitas lari atau jogging, diet seimbang, istirahat cukup, dan kelola stres. Nina mengapresiasi RSUD Al Ihsan yang meluncurkan program sekolah diabetes untuk relawan. Sekolah diabetes yang berjumlah 10 kelas diperuntukan untuk para relawan yang peduli terhadap kondisi diabetes.

"Launching sekolah diabetes ini program unggulan yang diluncurkan RSUD Al Ihsan, dimana di dalam diabetes center di Al Ihsan membuat inovasi sekolah diabetes untuk mereka yang peduli diabetes," kata dia.

Direktur Umum RSUD Al Ihsan Dewi Basmala mengatakan pasien yang dirawat di rumah sakit Al Ihsan akibat diabetes mulai menyentuh usia produktif. Dengan kondisi tersebut, ia mengajak semua pihak untuk lebih peduli terhadap kondisi kesehatan.

"Trennya prihatin, usia produktif bahkan ada anak kecil di bawah lima tahun kena," kata dia.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement