Kamis 02 Nov 2023 20:09 WIB

Hujan Deras di Puncak, Bendung Katulampa Bogor Kembali Siaga 4

Debit air di Sungai Ciliwung mencapai sekitar 68.000 liter per detik.

Rep: Shabrina Zakaria / Red: Friska Yolandha
Kondisi Bendung Katulampa, Kota Bogor pada Kamis (2/11/2023) sore menyentuh angka 70 centimeter atau Siaga 4.
Foto: Dok Pelaksana Bendung Katulampa
Kondisi Bendung Katulampa, Kota Bogor pada Kamis (2/11/2023) sore menyentuh angka 70 centimeter atau Siaga 4.

REPUBLIKA.CO.ID, Bogor -- Hujan yang melanda kawasan Puncak, Kabupaten Bogor membuat Tinggi Muka Air (TMA) dan debit Sungai Ciliwung di Bendung Katulampa, Kota Bogor kembali meningkat. Pada Kamis (2/11/2023) sore, TMA di Bendung Katulampa mencapai angka 70 centimeter atau Siaga 4.

Pelaksana Bendung Katulampa, Andi Sudirman, memantau air mulai naik dari 0 centimeter menjadi 70 centimeter sekitar pukul 17.44 WIB. Sedangkan kondisi cuaca di Bendung Katulampa gerimis halus.

Baca Juga

“Hujan di Puncak, baru datang air. Kalau musim penghujan normalnya TMA 20 hingga 40 centimeter masih normal, di atas 40 centimeter Siaga 4. Makanya sekarang seperti ini,” kata Andi dikonfirmasi Republika.co.id, Kamis (2/11/2023).

Lebih lanjut, Andi mengatakan, debit air di Sungai Ciliwung mencapai sekitar 68.000 liter per detik. Dengan 2.000 liter di antaranya dialirkan ke intake Kalibaru, sedangkan sisanya digelontorkan ke Sungai Ciliwung.

 

Belum lama ini, sekitar dua pekan lalu TMA Bendung Katulampa menyentuh angka 50 centimeter atau Siaga 4. Namun, sambung Andi, setelah itu TMA Bendung Katulampa kembali ke 0 centimeter.

“(Beberapa hari ke belakang) masih 0 centimeter. Dengan debit air yang masuk 1.500 liter per detik, dan penggelontoran 200 liter per detik,” jelasnya.

Diperkirakan, kata dia, kondisi Bendung Katulampa akan kembali normal pada awal November. Dengan harapan kawasan Puncak atau hulu Sungai Ciliwung diguyur hujan.

Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Barat, Rakhmat Prasetia, mengatakan kondisi curah hujan di kawasan Puncak tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Biasanya, memasuki Oktober hujan sudah mulai turun dan mengakhiri musim kemarau. 

Namun, kata dia, di tahun ini hujan diperkirakan baru turun pada akhir Oktober atau November. “Beda (curah hujannya). Tahun ini lebih kering. Insya Allah akhir Oktober atau November mulai hujan,” kata Rakhmat.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement