Kamis 19 Oct 2023 14:17 WIB

Sebulan tak Hujan, Debit Air di Bendung Katulampa Menyusut

Air Bendung Katulampa Dialihkan ke irigasi Kali Baru dan Sungai Ciliwung.

Rep: Shabrina Zakaria/ Red: Friska Yolandha
Sejak Juni 2023, debit air Sungai Ciliwung di Bendung Katulampa, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor menyusut di tengah musim kemarau dengan status siaga.
Foto: Republika/Shabrina Zakaria
Sejak Juni 2023, debit air Sungai Ciliwung di Bendung Katulampa, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor menyusut di tengah musim kemarau dengan status siaga.

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Musim kemarau membuat debit air Sungai Ciliwung di Bendung Katulampa, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor, terus menyusut. Per hari ini, Kamis (19/10/2023), debit air Katulampa menjadi 1.600 liter per detik, dari sebelumnya 1.800 liter per detik. 

Pelaksana Bendung Katulampa, Andi Sudirman, mengatakan dari debit air 1.600 liter itu disalurkan ke saluran irigasi Kali Baru sebanyak 1.400 liter per detik. Sedangkan ke arah Sungai Ciliwung digelontorkan sebanyak 200 liter per detik.

Baca Juga

Pada saat normal, debit air di Bendung Katulampa sebanyak 5.000-10.000 liter per detik. “Iya (debit air Bendung Katulampa menyusut) mulai hari ini. Tinggi Muka Air (TMA) masih 0 centimeter,” kata Andi dikonfirmasi Republika.co.id, Kamis (19/10/2023).

Surutnya debit air di Bendung Katulampa ini, salah satunya disebabkan belum ada hujan di wilayah Puncak, Kabupaten Bogor atau di hulu Sungai Ciliwung. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Klimatologi Jawa Barat mencatat dalam sebulan ini kawasan Puncak memang tidak diguyur hujan.

 

Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Barat Rakhmat Prasetia, mengatakan kawasan Puncak sudah tidak ada hujan selama sebulan lebih. Dari pemetaan curah hujan yang dimilikinya, kawasan Puncak ditandai dengan titik berwarna coklat.

“Dari data di atas terlihat lebih dari satu bulan tidak ada hujan. Iya (curah hujan kategori rendah 0-50 mm/das),” ujarnya.

Menurut Rakhmat, kondisi curah hujan di kawasan Puncak tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Biasanya, memasuki Oktober hujan sudah mulai turun dan mengakhiri musim kemarau. 

Namun, kata dia, di tahun ini hujan diperkirakan baru turun pada akhir Oktober atau November. “Beda (curah hujannya). Tahun ini lebih kering. Insya Allah akhir Oktober atau November mulai hujan,” kata Rakhmat.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement