Ahad 01 Oct 2023 22:46 WIB

Bambang Brodjonegoro Ungkap 3 PR Indonesia untuk Jadi Negara Maju di 2045

Buku setebal 320 halaman ini akan diterbitkan oleh Republika Penerbit.

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Lida Puspaningtyas
Soft launching dan bedah buku visiografi Menggapai Mimpi Menyejahterakan Masyarakat Bambang Brodjonegoro di Indonesia International Book Fair pada Ahad (1/10/23).
Foto: Republika/Adysha Citra Ramadani
Soft launching dan bedah buku visiografi Menggapai Mimpi Menyejahterakan Masyarakat Bambang Brodjonegoro di Indonesia International Book Fair pada Ahad (1/10/23).

REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG -- Pada usia 100 tahun kemerdekaan yang jatuh pada 2045, Indonesia diharapkan dapat menjadi negara maju yang menyejahterakan rakyatnya. Untuk bisa mencapai visi tersebut, tentu ada perjuangan besar yang harus dilakukan.

"Memang tidak mudah untuk membayangkan masa depan. Tapi untuk bisa menuju masa depan yang kita inginkan, tentunya harus dimulai dari suatu visi, suatu mimpi," kata pakar ekonomi sekaligus mantan Menteri Keuangan RI, Prof Bambang Brodjonegoro, melalui pesan video yang disampaikan dalam soft launching dan bedah buku Menggapai Mimpi Menyejahterakan Masyarakat di Indonesia International Book Fair (IIBF) pada Ahad (1/10/23).

Menurut Prof Bambang, negara maju tidak hanya bicara soal besarnya gross domestic product (GDP) atau produk domestik bruto (PDB). Prof Bambang menilai Indonesia harus menjadi negara maju yang tidak hanya sesuai dengan statistik dari Bank Dunia, tetapi juga memenuhi aspirasi para bapak pendiri bangsa Indonesia. Aspirasi tersebut adalah menjadi negara yang merdeka, berdaulat, adil, dan makmur, khususnya di sisi adil dan makmur.

Untuk mencapai hal tersebut, Prof Bambang menilai ada tiga tujuan besar yang perlu dicapai oleh Indonesia. Salah satu di antaranya adalah tingkat kemiskinan mendekati nol.

Tujuan yang kedua, yang masih menjadi permasalahan besar di Indonesia saat ini, adalah tingkat ketimpangan yang rendah. Menurut Prof Bambang, gambaran mengenai tingkat ketimpangan yang riil bisa diperoleh berdasarkan data pendapatan rumah tangga. Sedangkan tujuan yang ketiga adalah memiliki sumber daya manusia yang berkualitas.

"Menjadi negara maju perjalanannya masih panjang, tapi bukan berarti kita sebagai bangsa yang besar harus pesimis. Kita harus optimis," lanjut Prof Bambang.

Untuk mewujudkan tujuan-tujuan ini dan membuat Indonesia menjadi negara maju, ada empat elemen besar yang perlu diperhatikan. Keempat elemen tersebut adalah ekonomi, perencanaan wilayah, perguruan tinggi, dan olahraga.

Dari sisi ekonomi, Indonesia harus bisa meloloskan diri dari middle income trap pada 2036 dan masuk ke dalam jajaran top 5 ekonomi dunia pada 2045. Menurut penulis Akmal Nasery Basral, suatu negara bisa dikatakan maju bila memiliki PDB per kapita di atas 12.000 dolar AS per tahun.

"Indonesia di 2022, baru sampai 4.700 dolar AS. Ini sudah kemajuan besar, karena di era orde baru, krisis 1997 1998 membuat kita dari negara berpendapatan menengah ke bawah menjadi negara berpendapatan rendah," tambah Akmal.

Sedangkan dari sisi perencanaan wilayah, Indonesia perlu menghadirkan kota-kota yang liveable atau layak dihuni. Tak hanya itu, negara juga perlu memberikan jaminan terhadap infrastruktur dan layanan dasar bagi masyarakat.

"Harus layak bagi penghuni dari berbagai jenis latar belakang sosial ekonomi," lanjut Akmal.

Sedangkan dari sisi perguruan tinggi, Indonesia perlu memiliki perguruan-perguruan tinggi yang masuk ke dalam peringkat 100 besar menurut QS World University Rankings. Sebagai perbandingan, saat ini Indonesia memiliki sekitar 275 juta orang penduduk dan sekitar 4.000 kampus. Di sisi lain, Cina memiliki sekitar 1,4 miliar orang penduduk dan sekitar 2.000 kampus.

Dari segi jumlah kampus, Indonesia tentu tampak lebih unggul. Akan tetapi, menurut QS World University Rankings terbaru yang dirilis pada Juni lalu, Indonesia tak memiliki satu pun kampus yang masuk ke dalam peringkat 100 besar. Di sisi lain, Cina memiliki beberapa universitas yang masuk ke dalam peringkat 20 besar menurut QS World University Rankings, seperti Peking University dan Tsinghua University.

Negara maju juga kerap tercermin melalui prestasinya di bidang olahraga. Karena itu, Indonesia juga dinilai perlu terus mengasah dan meningkatkan prestasi di berbagai ajang kompetisi bergengsi seperti Asian Games dan Olimpiade.

Beragam pemikiran dari Prof Bambang mengenai visi Indonesia sebagai negara maju yang menyejahterakan rakyatnya ini tertuang dalam buku visiografi Menggapai Mimpi Menyejahterakan Masyarakat. Buku setebal 320 halaman ini akan diterbitkan oleh Republika Penerbit dalam waktu dekat.

Buku yang terdiri atas 15 bab ini merangkum pemikiran-pemikiran Prof Bambang yang diperoleh melalui sejumlah wawancara hingga tulisan-tulisan Prof Bambang. Meski dilahirkan dari pemikiran seorang pakar ekonomi ternama Indonesia, buku ini disajikan dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh pembaca dari berbagai kalangan.

"Buku ini memang bicara soal ekonomi, tapi orang yang bukan ahli ekonomi atau bukan dari bidang ekonomi akan nyaman membaca buku ini," jelas Syahruddin El Fikri dari Republika.

Menurut Pemimpin Redaksi Republika, Elba Damhuri, buku Menggapai Mimpi Menyejahterakan Masyarakat merupakan buku yang sangat menarik untuk dibaca. Buku ini juga dapat menjadi semacam peta jalan mengenai bagaimana Indonesia akan menjadi negara maju di 2045.

Tak hanya itu, buku ini juga menyentuh berbagai sisi, mulai dari sektor keuangan, industri, hingga ekonomi makro. Oleh karena itu, Elba menilai Menggapai Mimpi Menyejahterakan Masyarakat merupakan buku yang penting, bukan hanya bagi mahasiswa ekonomi saja, tetapi juga jurnalis, akademisi, hingga pebisnis.

"Bagi pebisnis, (buku) ini menarik sekali. Bagaimana Bambro (Bambang Brodjonegoro) memberi kisi-kisi bahwa kita bisa survive di tengah disrupsi ini. Buku ini menjelaskan bagaimana kita sebagai peselancar bisa berselancar di tengah gelombang. Di balik setiap challenge yang besar, di balik setiap disrupsi, selalu ada jalan keluar, selalu ada peluang-peluang yang bisa kita ambil," ujar Elba.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement