Selasa 22 Aug 2023 06:20 WIB

Politikus PDIP Sebut Budiman Pernah Minta Posisi Menteri

PDIP memastikan sanksi untuk Budiman adalah pemecatan.

Rep: Nawir Arsyad Akbar/ Red: Agus raharjo
Calon presiden dari Partai Gerindra Prabowo Subianto dan politisi PDIP Budiman Sudjatmiko berfoto bersama dalam acara Deklarasi Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (18/8/2023). Dalam acara itu, Budiman mendeklarasikan dukungan kepada Prabowo sebagai calon presiden Pilpres 2024.
Foto: Dok Tim Media Prabowo
Calon presiden dari Partai Gerindra Prabowo Subianto dan politisi PDIP Budiman Sudjatmiko berfoto bersama dalam acara Deklarasi Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (18/8/2023). Dalam acara itu, Budiman mendeklarasikan dukungan kepada Prabowo sebagai calon presiden Pilpres 2024.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Deddy Yevri Hanteru Sitorus, mengkritik sikap Budiman Sudjatmiko yang tak sejalan dengan keputusan Megawati Soekarnoputri. Budiman berseberangan dengan PDIP karena mendukung Prabowo Subianto, padahal Megawati sudah mendeklarasikan dukungan kepada Ganjar Pranowo sebagai bakal calon presiden (capres).

Deddy menyebut Budiman sebagai orang yang tak waras. Menurutnya, Budiman mengeklaim mengikuti ajaran Megawati, tetapi tak taat terhadap keputusan partai yang memutuskan Ganjar sebagai bakal capres.

Baca Juga

"Kalau dia waras, dia ideologinya Ibu Mega, ya dia ikutin dong keputusan Ibu Mega. Kan itu kelihatan banget dia sudah tidak waras, sudah tidak mengerti lagi hal yang baik, hal yang benar gitu," ujar Deddy kepada wartawan, Senin (21/8/2023).

"Dia datang ke kita minta dijamin untuk bisa dapat jatah kursi menteri, walaupun hanya tiga bulan, sama Sekjen ditolak dong, mana bisa menggaransi itu. Itu kan hak prerogatif presiden," kata dia menambahkan.

 

Selain itu, ia menjelaskan bahwa keputusan DPP PDIP terhadap Budiman akan segera diumumkan. Namun ia menilai, partai berlambang kepala banteng itu pasti akan memecat mantan aktivis '98 itu.

"Padahal kan dia sudah tahu kalau berbeda ya pilihannya cuma ada dua mundur atau dipecat, jadi ya dia supaya naik harganya, bisa jadi kayak martir, naik harga pasarannya. Dia maunya dipecat, enak aja, ya kita pasti pecat, tapi kan bukan dia ngatur kita," ujar Deddy.

PDIP lewat Megawati sudah mendeklarasikan Ganjar sebagai bakal capres. Pernyataan dukungan untuk Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto membuat Budiman melanggar anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) PDIP.

"Kalau dia secara tegas, vulgar mendukung calon yang di luar rekomen partai, itu proses pemecatan biasa tidak berlaku, itu pemecatan seketika, tidak perlu ditanya. Karena bukti-buktinya sudah jelas, dia menyatakan dukungan akan mendukung capres yang bukan dipilih partai," ujar Deddy.

"Kalau orang seperti itu dibiarin, ya semua orang sesuka-suka hatinya dong di partai mau dukung siapa, emangnya ini gerombolan, karang taruna. Dia sengaja supaya dipecat, supaya kesannya heroik gitu, supaya kayak didzolimi," sambung Sekretaris Tim Koordinasi Relawan Pemenangan Pilpres (TKRPP) PDIP itu.

Alasan Budiman pilih Prabowo ...

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement