Senin 14 Aug 2023 13:32 WIB

Wapres Akui Kualitas Udara Jabodetabek Makin Buruk, Ini Sebabnya

Jakarta menempati posisi kedua terburuk di dunia setelah Kuwait.

Rep: Fauziah Mursid/ Red: Friska Yolandha
Suasana gedung-gedung bertingkat yang tertutup oleh kabut polusi di Jakarta, Selasa (25/7/2023).Berdasarkan data IQAir pukul 16.29 WIB, Jakarta tercatat menjadi kota dengan kualitas udara dan polusi terburuk di dunia dengan nilai indeks 168 atau masuk kategori tidak sehat. Pemprov DKI Jakarta menempuh kebijakan dengan memperbanyak penanaman pohon sebagai upaya untuk memperbaiki kualitas udara di Ibu Kota.
Foto: Republika/Prayogi
Suasana gedung-gedung bertingkat yang tertutup oleh kabut polusi di Jakarta, Selasa (25/7/2023).Berdasarkan data IQAir pukul 16.29 WIB, Jakarta tercatat menjadi kota dengan kualitas udara dan polusi terburuk di dunia dengan nilai indeks 168 atau masuk kategori tidak sehat. Pemprov DKI Jakarta menempuh kebijakan dengan memperbanyak penanaman pohon sebagai upaya untuk memperbaiki kualitas udara di Ibu Kota.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin mengakui kualitas udara di Jabodedetabek yang kian tercemar dan masuk kategori tidak sehat. Berdasarkan laporan kualitas udara dunia, Jakarta menempati posisi kedua terburuk di dunia setelah Kuwait. Sedangkan rangking kota paling berpolusi di Indonesia data terbaru adalah Tangerang Selatan disusul Jakarta dan Tangerang posisi ke empat.

"Saya kira pemerintah memang serius ya untuk mengatasi polusi udara di Jabodetabek ini ya," ujar Kiai Ma'ruf dalam keterangannya di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Senin (14/8/2023).

Baca Juga

Kiai Ma'ruf mengatakan, penyebab polusi paling besar adalah dari kendaraan. Karena itu, Pemerintah terus mendorong masyarakat menggunakan kendaraan umum.

"Sebab polusi yang paling besar itu kan dari kendaraan, jadi ada melakukan perubahan. Dan terus dikaji hal-hal yang mungkin bisa lebih baik lagi," ujarnya.

Tak hanya itu, Pemerintah juga kini mulai mendorong transisi penggunaan kendaraan berbasis bahan bakar minyak (BBM) ke berbasis listrik. Dengan begitu, diharapkan emisi yang berasal dari kendaraan berbasis BBM bisa berkurang.

"Supaya banyak menggunakan kendaraan umum, yang sekarang ini sudah mulai menggunakan bus-bus listrik ya. Kemudian juga membuka ruang-ruang terbuka hijau, ruang hijau untuk apa namanya itu, dan juga mendorong masyarakat supaya juga menggunakan kendaraan listrik," ujarnya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement