Rabu 26 Jul 2023 10:46 WIB

Warga Umbulharjo Tolak Daerahnya Dijadikan TPS Sementara

Warga khawatir dampak yang ditimbulkan adanya tempat pembuangan sampah sementara.

Rep: Febrianto Adi Saputro/ Red: Agus raharjo
Tumpukan sampah tidak terangkut di Alun-alun Selatan Yogyakarta, Selasa (25/7/2023). Semenjak penutupan operasional TPA Piyungan semua depo sampah di Kota Yogyakarta juga ikut menutup sementara hingga 5 September mendatang. Imbas penutupan ini, warga dan pedagang makanan kebingungan membuang sampahnya. Penumpukan sampah mulai terlihat di beberapa titik permukiman.
Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Tumpukan sampah tidak terangkut di Alun-alun Selatan Yogyakarta, Selasa (25/7/2023). Semenjak penutupan operasional TPA Piyungan semua depo sampah di Kota Yogyakarta juga ikut menutup sementara hingga 5 September mendatang. Imbas penutupan ini, warga dan pedagang makanan kebingungan membuang sampahnya. Penumpukan sampah mulai terlihat di beberapa titik permukiman.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubowo X menyiapkan lahan seluas 2,5 hektare di wilayah Umbulharjo, Cangkringan, Sleman untuk dijadikan tempat pembuangan sampah (TPS) sementara. Namun, warga Umbulharjo kemudian menolak terkait rencana tersebut.

"Dari hasil musyawarah dengan warga Karanggeneng, Umbulharjo menolak kalau TPS di lokasi tersebut," kata Panewu Cangkringan Djaka Sumarsana kepada Republika.co.id, Rabu (26/7/2023).

Baca Juga

Djaka mengatakan dasar penolakan tersebut lantaran warga khawatir dampak yang ditimbulkan dengan adanya TPS. Belum diketahui wilayah mana lagi di Cangkringan yang menyampaikan penolakan.

"Akan ditindaklanjuti oleh Pemkab Sleman dan dikoordinasikan lebih lanjut," ujarnya.

Hal senada juga disampaikan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman, Epiphana Kristiyani. Ia membenarkan adanya penolakan tersebut. "Iya semua warga tolak (rencana dijadikan TPS sementara)," tuturnya.

Epiphana menilai penolakan tersebut merupakan hal yang wajar. Ia memahami bahwa penolakan tersebut akan berdampak pada perekonomian warga yang sehari-hari bergantung pada pariwisata.

"Kalau masyarakat menolak ya kami paham. Jadi nggak apa-apa kita sekarang berupaya cari tempat lain yang bisa kita titipi," katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement