Ahad 23 Jul 2023 13:45 WIB

OIKN Siap Terapkan Pengelolaan Air Hujan untuk Kebutuhan Air Baku

Limpasan air hujan bisa ditampung dan dipanen ketika musim kemarau.

Warga bersantai di lokasi titik nol Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara di Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Rabu (17/8/2022).
Foto: ANTARA/Bayu Pratama S
Warga bersantai di lokasi titik nol Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara di Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Rabu (17/8/2022).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) siap mengaplikasikan pengelolaan air hujan dan daur ulang air bekas wudu untuk kebutuhan air baku di Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara.

"Kita siap mengaplikasikan pengelolaan air hujan dan limpasan air hujan yang cerdas, jadi nanti akan ada pemantauan berapa curah hujan yang turun di IKN Nusantara," ujar Direktur Transformasi Hijau OIKN Agus Gunawan dalam diskusi daring di Jakarta, Ahad (23/7/2023).

Baca Juga

Agus mengatakan, pengelolaan air hujan ini nantinya akan peruntukkan pemanfaatannya untuk sejumlah kebutuhan. Limpasan air hujan bisa dimanfaatkan dengan disimpan dan kemudian nantinya dipanen dan digunakan ketika menghadapi musim kemarau.

Dengan demikian, lanjut Agus, pemanfaatan air hujan dan limpasannya ini dapat dioptimalkan. Hal ini tentunya membutuhkan sistem untuk mengaturnya.

Dengan sistem (pengelolaan) yang baik maka nantinya air hujan dapat dimanfaatkan dengan baik untuk kebutuhan pendingin di gedung-gedung, pengisian ulang air tanah, atau didaur ulang lagi.

Agus juga mengatakan, OIKN juga nantinya siap memperkenalkan upaya daur ulang air bekas wudhu atau grey water. "Air tersebut sudah digunakan sekali dan belum terlalu kotor tetapi bukan untuk kebutuhan air minum dan MCK (mandi, cuci, kakus/buang air)," kata dia.

Air berkategori grey water ini nantinya akan diolah lagi sebagai air baku seperti untuk kebutuhan menyiram taman, sehingga tidak perlu lagi penyiraman taman dengan menyalurkan air bersih namun cukup menggunakan air hasil daur ulang. "Itu beberapa hal yang kami siap implementasikan dan kemudian juga melakukan pemantauan terhadap sungai-sungai, dan juga menggunakan sistem SCADA (Supervisory Control and Data Acquisition) di mana seluruh data yang kami kumpulkan dari pengelolaan air limbah nantinya akan dikumpulkan di data center lalu digunakan di command control yang akan mengambil kebijakan berkaitan dengan air limbah," kata Agus.

 

sumber : ANTARA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement