Senin 10 Jul 2023 06:55 WIB

Angka Stunting Klungkung Turun, Bupati Disematkan Satyalencana Wira Karya

Data statistik PBB tahun 2020, bahwa 22% balita di seluruh dunia mengalami stunting.

Ilustrasi pencegahan stunting.
Foto: www.freepik.com
Ilustrasi pencegahan stunting.

REPUBLIKA.CO.ID, PALEMBANG -- Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta menerima penghargaan Tanda Kehormatan Satyalencana Wira Karya sebagai apresiasi atas kontribusinya dalam upaya menurunkan angka stunting di Klungkung, Bali. Penghargaan diberikan langsung oleh Wakil Presiden Republik Indonesia, Ma'ruf Amin, saat puncak acara  peringatan Hari Keluarga Nasional ke 30 tahun 2023, bertempat di lapangan kantor Bupati Banyuasin, Sumatra Selatan. 

“Ini merupakan tanda penghormatan yang keenam yang saya dapatkan. Penghargaan tahun ini diraih berkat berbagai gebrakan yang telah dilakukan dan kerja sama dalam memerangi dan menurunkan angka stunting. Bersama Tim Penggerak PKK dan sejumlah OPD, termasuk juga pembentukan tim percepatan penanganan stunting sehingga angka stunting bisa turun dari 19 persen menjadi 7 persen,” kata Suwirta, dilansir pada Senin (10/7/2023). 

Baca Juga

Satyalencana Wira Karya merupakan tanda kehormatan yang diberikan Pemerintah Republik Indonesia kepada para kepala daerah atau warga, yang telah memberikan darma bakti besar kepada negara dan bangsa Indonesia, sehingga menjadi teladan bagi orang lain. 

"Prestasi ini bukan tujuan utama. Tujuan utama dari program yang saya pimpin adalah bagaimana angka stunting bisa 0 persen . Saya berterimakasih kepada pemerintah pusat untuk penghargaan ini. Namun, saya pun wajib memberikan apresiasi pada  mulai dari seluruh OPD, Tim Penggerak PKK,  tim percepatan Penanganan Stunting hingga para perangkat desa serta warga," kata Suwirta.

Berdasarkan data statistik PBB tahun 2020, bahwa 22 persen balita di seluruh dunia mengalami stunting. Jumlahnya kurang lebih 149 juta balita dan dari jumlah tersebut sekitar 6,3 juta balita stunting pada tahun 2020 adalah balita Indonesia.

“Dampak stunting bukan hanya tinggi badan. Akan tetapi, kualitas hidup individu akibat munculnya penyakit kronis, ketertinggalan dalam kecerdasan, dan kalah di dalam persaingan. Stunting harus menurun minimal 3,8 persen per tahun adalah target dari BKKBN. Kita harus serius menurunkan angka stunting, oleh karena itu keluarga menjadi faktor kunci dalam mencegah stunting,” ujar Suwirta.

Menurut Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022, prevalensi stunting nasional rata rata masih 21,6 persen. Bahkan, di beberapa daerah skor prevalensinya lebih tinggi dari rata rata nasional sehingga sudah termasuk status darurat stunting. Indonesia menargetkan penurunan stunting besar-besaran, pada 2024 target stunting adalah 14 persen. 

“Anemia adalah salah satu risiko melahirkan bayi stunting, oleh karena itu orang tua khususnya ibu hamil perlu konsumsi buah dan sayur. Kualitas hidup pun perlu ditingkatkan dengan cara tidak merokok, minum alkohol, dan begadang. Jika gizi orang tua tidak cukup, ditambah pola hidup yang tidak baik maka akan berisiko lebih besar melahirkan bayi stunting,” ujar Suwirta.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement