Selasa 27 Jun 2023 12:46 WIB

Lewat Sebuah Buku, SBY Ingatkan Jokowi Soal Cawe-Cawe

SBY memandang cawe-cawe Jokowi sah saja asal positif.

Rep: Nawir Arsyad Akbar/ Red: Teguh Firmansyah
Partai Demokrat menggelar bedah buku karya Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat yang juga Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang berjudul Pilpres 2024 & Cawe-cawe Presiden Jokowi, The President Can Do No Wrong.
Foto: Dok. Partai Demokrat
Partai Demokrat menggelar bedah buku karya Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat yang juga Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang berjudul Pilpres 2024 & Cawe-cawe Presiden Jokowi, The President Can Do No Wrong.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat yang juga presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menerbitkan buku berjudul Pilpres 2024 & Cawe-cawe Presiden Jokowi, The President Can Do No Wrong. Buku fisik tersebut hanya terbatas untuk pengurus DPP Partai Demokrat.

Hal pertama yang disampaikan dalam bukunya adalah pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang mengaku akan cawe-cawe untuk kepentingan nasional. SBY berpendapat pada bukunya di halaman 7, langkah tersebut sah saja dilakukan oleh seorang pemimpin negara.

Baca Juga

"Sah-sah saja Presiden Jokowi mengatakan atau berbuat begitu. Apalagi kalau cawe-cawe yang beliau lakukan adalah cawe-cawe yang baik, yang positif. Saya pikir kita tidak boleh serta-merta mengatakan bahwa apa yang dilakukan Pak Jokowi itu tidak baik atau salah," ujar SBY lewat bukunya, dikutip Selasa (27/6/2023).

Meskipun memiliki sejumlah pandangan yang berbeda dengan Jokowi, ia tak boleh menyatakan bahwa hal yang dilakukan presiden ketujuh Republik Indonesia itu salah. Namun, ia mengingatkan agar Jokowi berhati-hati terkait cawe-cawe-nya itu.

Jangan sampai ikut campur seorang pemimpin negara menjadi bias dan dikaitkan dengan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024. Sebab, kepentingan nasional sangat berbeda dengan kepentingan politik sebuah partai politik atau pihak tertentu.

"Banyak literatur yang mendefinisikan kepentingan negara dalam tingkatan mulai yang bersifat hidup matinya sebuah negara (survival interest), disusul dengan kepentingan negara yang vital (vital interests) dan kemudian disusul dengan kepentingan besar (major interests) dan seterusnya," ujar SBY pada halaman 8.

Karena itu, Jokowi harus meyakinkan rakyat bahwa cawe-cawe yang dilakukan memang untuk kepentingan nasional. Karena, rakyatlah yang memilih pemimpin periode berikutnya, bukan ditentukan oleh segelintir elite.

"Kalau mengatakan bahwa cawe-cawe itu demi kepentingan bangsa dan negara perlulah rakyat Indonesia diyakinkan bahwa cawe-cawe Presiden Jokowi benar-benar demi kepentingan bangsa dan negara," ujar SBY.

 

 

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement