Sabtu 24 Jun 2023 17:55 WIB

DPD Dukung Rencana Ormas Bundo Kanduang Bangun Gedung Dakwah

Gedung Dakwah Bundo Kanduang dibangun di Jaksel atau Jaktim senilai Rp 20 miliar.

Rep: Ronggo Astungkoro/ Red: Erik Purnama Putra
Anggota DPD RI Sylviana Murni (tengah) di Gedung Nusantara V Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (24/6/2023).
Foto: Republika/Ronggo Astungkoro
Anggota DPD RI Sylviana Murni (tengah) di Gedung Nusantara V Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (24/6/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Dapil DKI Jakarta, Sylviana Murni mendukung rencana pembangunan Gedung Dakwah Bundo Kanduang yang diinisiasi oleh organisasi masyarakat asal Provinsi Sumatra Barat tersebut. Gedung itu dibangun dalam upaya membumikan kembali adat 'basandi syarak, syarak basandi kitabullah' untuk mencegah terjadinya kemerosotan moral.

"Saya mewakili ketua DPD RI dan kebetulan saya Dapil DKI, kebetulan saya tuan rumahlah ya, dan kebetulan ada keluarga besar Minangkabau di sini, saya menerima karena mereka ini bagus sekali niatnya," kata Sylviana di lobi Nusantara V, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (24/6/2023).

Niat pembangunan gedung tersebut sebagai sarana para perantau dari Minangkabau di Jakarta agar menjalankan kembali adat-istiadat atau nilai luhur para pemangku adat. Hal itu dimaksudkan agar makna adat Minangkabau bersendikan atau berdasarkan agama Islam benar-benar diterapkan.

Dia melihat, nilai-nilai itu kini mulai memudar di tengah masyarakat. "Bagaimana ingin mensosialisasikan memang betul orang Padang punya satu falsafah hidup saat ini kok kurang sosialisasinya saya menggangap ini perlu sekali disosialisasikan kembali," kata Sylviana.

Gedung tersebut rencananya dibangun di bilangan Jakarta Selatan atau Jakarta Timur dengan nilai anggaran sekitar Rp 20 miliar. Sylviana mempersilakan para perantau dan pengurus organisasi menggunakan gedung DPD untuk pencairan dana.

Sementara itu, Ketua Organisasi Bunda Kanduang, Nurdiati Akma menjelaskan, falsafah 'basandi syarak, syarak basandi kitabullah' sudah dirumuskan dan lahir sejak tahun 1800-an. Tapi, falsafah tersebut semakin tergerus oleh zaman. Hal yang menyebabkan hal itu terjadi, kata dia, adalah minimnya penyosialisasian.

"Ke sininya itu tidak ada, tergerus, karena memang tidak ada penyolisasian, tidak ada tulisan. Di mana-mana tidak ada. Saya sebagai orang Minang juga cari-cari di mana (bentuk sosialisasinya)," jelas Nurdiati.

Pleh sebab itu, pihaknya menginisasi pembangunan Gedung Dakwah Bundo Kanduang. Gedung tersebut nantinya akan diisi oleh para profesional yang dapat menangani, meneliti, membina, dan mengembangkan adat 'basandi syarak, syarak basandi kitabullah' untuk kemudian dapat semakin dipahami oleh masyarakat, khususnya masyarakat Minang.

"Kegiatan yang kami rencanakan adalah pembangunan sebuah gedung yang di dalamnya ada kita bayar orang-orang profesional yang bisa menangani, meneliti, membina, mengembangkan adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah," jelas Nurdiati.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement