Jumat 12 May 2023 20:58 WIB

30 TPS di Kota Bandung Masih Overload

Sebelumnya, sebanyak 55 TPS di Kota Bandung ditutup karena overload.

Rep: Dea Alvi Soraya/ Red: Nora Azizah
Warga beraktivitas di dekat Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS) Ciwastra yang ditutup sementara di Rancasari, Kota Bandung, Jawa Barat.
Foto: ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA
Warga beraktivitas di dekat Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS) Ciwastra yang ditutup sementara di Rancasari, Kota Bandung, Jawa Barat.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Penanganan sampah masih persoalan prioritas yang terus digenjol Pemerintah Kota Bandung. Jika sebelumnya terdata sekitar 55 tempat penampungan sementara (TPS) yang terpaksa ditutup. Pasalnya, TPS kelebihan kapasitas (overload).

Namun, kini dilaporkan 25 di antaranya telah dibuka dan normal kembali, salah satunya TPS Babakan Siliwangi. Hingga kini, tersisa 30 TPS yang masih overload.

Baca Juga

"Tadi saya lihat di Babakan Siliwangi itu sangat jauh lebih bagus, perubahannya sangat signifikan. Saya mengapresiasi kinerja DLHK, sampahnya sudah jauh berkurang karena Cicabe juga sudah mulai bisa operasional meski belum 100 persen," ungkap Plh Wali Kota Bandung Ema Sumarna seusai meninjau kawasan tersebut, Jumat 12 Mei 2023.

Menurut Ema, selain secara bertahap mengurangi kuantitas gunungan sampah di Kota Bandung, saat ini perbaikan infrastruktur jalan menuju TPA Darurat Cicabe juga tengah didorong. Meski hanya difungsikan sementara, namun keberadaan TPA yang sejauh ini telah menampung sekitar 600 ton sampah dari wilayah Bandung timur tersebut disebut cukup membantu mengurai lambannya ritase pengangkutan sampah ke TPA Sarimukti, yang hingga saat ini belum sepenuhnya pulih.

"Kita sedang terus perbaiki pengerasan jalannya. Bukan hanya dengan batu tapi juga dicampur dengan bambu supaya mobil yang lewat tidak selip," jelasnya.

"Di Cicabe juga para pemulung mereduksi volume sampah. Sisanya yang organik itu akan ditanam atau dimasukkan ke lubang untuk dibakar. Dengan pola pembakaran yang sudah tersertifikasi dan itu 'best practice'-nya ada di Pasar Ciwastra," paparnya.

Ema juga mengatakan tengah mendorong proses pengolahan sampah di Cicabe dengan sistem pembakaran seperti di Ciwastra. Dengan sistem tersebut, satu unit alat pembakar bisa mengolah 4-8 ton sampah per hari. Dia memaparkan, jika TPA Cicabe dipasang 2-3 unit, artinya 24-30 ton sampah dapat tereduksi per hari, dan sisanya dapat melalui sistem sanitary landfill.

"Memang pembakaran itu yang paling efektif asal suhunya 1.000 derajat celcius," ujarnya.

Untuk menghilangkan aroma tak sedap dari TPS Babakan Siliwangi dan lainnya, lokasi bekas sampah disirami minyak sereh. Selain meninjau lokasi sampah di Babakan Siliwangi, Ema dan jajarannya juga mengunjungi TPS di Kelurahan Padasuka. Terlihat tumpukan sampah menggunung di lokasi tersebut.

"Tapi itu volumenya masih normal. Kita sudah masukan secara bertahap juga ke Cicabe," ujarnya.

Demi mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke TPA, Ema juga mengarahkan agar di tiap TPS melakukan proses pemilahan langsung. Upaya ini, akan semakin masif jika diimbangi dengan penerapan Kang Pisman di rumah-rumah, sehingga proses pemilahan sampah di TPS dapat lebih mudah dan singkat, sambung Ema.

"Tiap SPK akan saya pimpin langsung acara komunikasi, koordinasi, sosialisasi, dan edukasi kepada seluruh RW yang ada di kota Bandung. Mudah-mudahan setelah kita berkomunikasi, berkoordinasi, dan bersinergi dengan RT dan RW pekerjaan seberat apapun bisa diselesaikan bersama-sama," harapnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement