Kamis 04 May 2023 05:23 WIB

Misteri Penyebab Kematian Pelaku Penembakan di Kantor MUI dan Alasan Polisi

Tak jelasnya penyebab kematian pelaku penembakan kantor MUI memicu spekulasi publik.

Tim INAFIS melakukan identifikasi saat olah TKP di kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) pascainsiden penembakan di Jakarta, Selasa (2/5/2023). Dalam insiden tersebut pelaku penembakan tewas dan dua orang lainnya yakni resepsionis MUI mengalami luka pada bagian punggung dan pegawai MUI lainnya terluka akibat menabrak pintu saat menghindari tembakan tersebut. Dalam peristiwa tersebut, pihak Kepolisian masih melakukan penyidikan terkait pelacakan latar belakang pelaku penembakan di Gedung MUI tersebut.
Foto: Republika/Thoudy Badai
Tim INAFIS melakukan identifikasi saat olah TKP di kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) pascainsiden penembakan di Jakarta, Selasa (2/5/2023). Dalam insiden tersebut pelaku penembakan tewas dan dua orang lainnya yakni resepsionis MUI mengalami luka pada bagian punggung dan pegawai MUI lainnya terluka akibat menabrak pintu saat menghindari tembakan tersebut. Dalam peristiwa tersebut, pihak Kepolisian masih melakukan penyidikan terkait pelacakan latar belakang pelaku penembakan di Gedung MUI tersebut.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Ali Mansur, Imas Damayanti, Andrian Saputra

Meski proses autopsi telah selesai dilakukan, penyebab kematian Mustofa NR (60 tahun) pelaku penembakan di kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) belum diketahui. Hal itu dikarenakan masih ada pemeriksaan uji patologi anatomik terhadap sampel organ tubuh Mustofa yang diambil pada saat proses autopsi.

Baca Juga

"Pemeriksaan-pemeriksaan itu kita mengambil organ dalam untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium patologi anatomik," ujar Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Polri, Brigjen Hariyanto kepada awak media, Rabu (3/5/2023).

Adapun organ tubuh yang diambil adalah sampel jantung dan paru-paru. Karena memang, organ tersebut dapat menjelaskan penyebab kematian yang bersangkutan. Sehingga, dengan adanya uji patologi anatomik tersebut bisa diketahui, apakah Mustofa tewas karena sakit jantung atau asma seperti riwayat penyakit yang dimilikinya. 

 

"Dari patologi anatomik sebenarnya yang asma yang bisa membunuh itu pengaruhnya, ya itu nanti pengaruhnya ke jantung dan sebagainya. Jadi, nanti hasil dari pemeriksaan patologi yang akan menjawab bahwa yang bersangkutan ini sebenarnya sebab kematian itu karena apa," kata Brigjen Hariyanto.

Proses autopsi terhadal jenazah Mustofa NR di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, selesai pada Selasa (2/5/2023) malam. Namun, untuk hasil autopsi tersebut, masih belum diketahui.

"Sudah selesai, tapi hasilnya kita baru bahas nanti ke penyidik nanti yang menyampaikan penyidik dalam konferensi pers atau apa," kata Hariyanto.

Hariyanto mengatakan, pihaknya tidak bisa menjelaskan hasil daripada autopsi pelaku penembakan tersebut tanpa diminta oleh pihak penyidik yang menangani kasus tersebut. Namun memang, menurut dia, ada pemeriksaan laboratorium tambahan untuk mencocokkan kondisi pertama kali ditemukan.

"Nanti, misalnya kita diundang ke konpers itu penyidik mungkin minta tolong kepada kita menjelaskan," kata Hariyanto. 

Sebelumnya, seusai melakukan penembakan di kantor MUI Pusat, Selasa (2/5/2023) Mustofa ditangkap oleh petugas dalam kondisi tidak sadar. Kemudian dibawa ke polsek terdekat, tapi masih tidak sadar sehingga pihak kepolisian pun membawa pelaku ke Puskesmas Menteng, Jakarta Pusat. Namun, setibanya di Puskesmas Menteng yang bersangkutan dikatakan sudah tak bernyawa lagi oleh pihak medis. 

"Dokter Puskesmas Menteng menyatakan bahwa pelaku sudah dalam keadaan meninggal," Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Polisi Komarudin. 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement