Sabtu 18 Mar 2023 17:31 WIB

Bawaslu Sebut SMS Blast Saat Anies di Surabaya Sebagai Upaya Pencegahan

Bawaslu Jawa Timur mencegah adanya kegiatan politik di tempat ibadah.

Rep: Nawir Arsyad Akbar/ Red: Andri Saubani
Bakal calon presiden dari Koalisi Perubahan Anies Baswedan. Belakangan kegiatan sosialisasi Anies di salah satu masjid di Surabaya, Jawa Timur mendapat teguran dari Bawaslu. (ilustrasi)
Foto: Republika/Thoudy Badai
Bakal calon presiden dari Koalisi Perubahan Anies Baswedan. Belakangan kegiatan sosialisasi Anies di salah satu masjid di Surabaya, Jawa Timur mendapat teguran dari Bawaslu. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Lolly Suhenty buka suara terkait adanya pesan berantai atau SMS blast yang melarang bakal calon presiden (capres), Anies Baswedan menggelar kegiatannya di salah satu masjid di Surabaya, Jawa Timur. Jelasnya, itu merupakan upaya Bawaslu Jawa Timur untuk mencegah adanya kegiatan politik di tempat ibadah.

"Sesungguhnya saya baru dapat informasi kemarin, tapi ini (pesan berantai) adalah upaya pencegahan yang dilakukan teman-teman Bawaslu Jawa Timur," ujar Lolly di Artotel Suites Mangkuluhur, Jakarta, Sabtu (18/3/2023).

Baca Juga

Kendati demikian, ia menegaskan bahwa hal tersebut juga dapat terjadi kepada orang lain yang menjadikan tempat ibadah untuk kegiatan politik. Tak hanya kepada Anies yang telah resmi diusung sebagai bakal capres oleh Partai Nasdem, Partai Demokrat, dan Partai KEadilan Sejahtera (PKS).

"SMS itu tidak hanya ditujukan kepada Anies tetapi sesungguhnya kepada seluruh teman-teman yang dalam konteks ini kemudian mulai aktif menyuarakan soal apa, mempublikasikan diri," ujar Ketua Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat, dan Hubungan Masyarakat Bawaslu itu.

 

Diketahui, beberapa waktu lalu terdapat pesan singkat terkait kegiatan politik Anies Baswedan di Masjid Al-Akbar Surabaya, Jawa Timur. Pesan singkat berantai tersebut diterima oleh sejumlah warga Jawa Timur.

"Surat Bawaslu Jatim 123/PM.00.02/K.JI-38/03/2023 Tgl 13 Maret 2023 Melarang Masjid Al-Akbar untuk politik Anies Baswedan yang melanggar aturan Pemilu," bunyi pesan singkat tersebut.

Anies sendiri pernah menyampaikan, bahwa dirinya tak mencuri start ketika menyampaikan pikirannya dalam berbagai forum di berbagai wilayah. Jelasnya, itu merupakan gerakan dari banyak pihak yang menginginkan perubahan bagi Indonesia.

"InsyaAllah pertemuan ini jadi awalan, hari ini yang kita miliki sesungguhnya bukan mencuri start. Kalau mencuri start itu kesannya seperti tengok kanan-kiri, cari kesempatan nyelonong gitu, bukan. Ini adalah head start, bukan mencuri start," ujar Anies dalam acara dialog kebangsaan yang digelar Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Jaya, Kamis (16/3/2023) malam.

Ia menganalogikan 'head start' tersebut seperti program akselerasi di sekolah. Sebutnya, yang melakukan akselerasi tersebut bukan dirinya, melainkan tiga partai politik pengusungnya, yakni Partai Nasdem, Partai Demokrat, dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

"Yang akselerasi itu bukan saya, yang akselerasi itu tiga partai ini, tiga partai ini melakukan akselerasi. Karena tiga partai ini memikirkan hari ini, tiga partai ini bisa kemana-mana dengan leluasa," ujar Anies.

"Ini adalah sebuah gate awal, bukan semata-mata nganggur. Ini akselerasi, hanya mereka yang siap yang memutuskan bergerak lebih awal," sambung mantan gubernur DKI Jakarta itu.

 

photo
Manuver Surya Paloh antara Anies dan Jokowi. - (Republika/berbagai sumber)
 

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement