Jumat 17 Mar 2023 09:58 WIB

Jokowi Apresiasi Masyarakat Melayu-Banjar Dukung Pembangunan IKN

Jokowi sebut perpindahan ibu kota tak hanya sekadar fisik, tapi juga pola pikir.

Rep: Dessy Suciati Saputri/ Red: Teguh Firmansyah
Presiden Joko Widodo
Foto: ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
Presiden Joko Widodo

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengapresiasi dukungan masyarakat Melayu-Banjar terhadap pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur. Jokowi pun mendorong masyarakat Melayu-Banjar agar berperan aktif dalam pengembangan ibu kota baru ini.

Hal ini disampaikan Jokowi dalam sambutannya di acara istighosah dan doa bersama Rabithah Melayu-Banjar, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, Jumat (17/3).

Baca Juga

“Saya ingin mengucapkan terima kasih dan apresiasi yang diberikan masyarakat Melayu-Banjar terhadap pembangunan Ibu Kota Nusantara. Dan saya berharap masyarakat Melayu-Banjar menjadi tuan rumah di tanahnya sendiri. Berperan aktif dan menjadi bagian penting dari sejarah terwujudnya Ibu Kota Nusantara,” ujar Jokowi.

Ia menyampaikan, pembangunan IKN dimulai dengan mempersiapkan pembangunan infrastruktur di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan, seperti istana dan gedung-gedung kementerian. Meski demikian, pemerintah tidak hanya akan memindahkan bangunan fisik ke IKN, namun juga mengubah cara kerja dan pola pikir pegawai pemerintahan dalam melayani masyarakat.

 

“Yang ingin kita pindahkan itu bukan fisiknya sebetulnya, kita ingin membangun sebuah cara-cara kerja yang baru bagaimana melayani masyarakat pemerintah, cara-cara kerja baru, melayani dengan cepat, melayani dengan baik dan kita ingin juga yang kedua mengubah pola pikir, mindset agar kita bisa bersaing dengan negara-negara lain,” jelas Jokowi.

Jokowi mengatakan, perubahan cara kerja dan pola pikir baru ini akan meningkatkan daya saing dengan negara lain. Lebih lanjut, Jokowi kemudian menjelaskan alasan pemerintah memindahkan ibu kota negara ke Kalimantan Timur.

Indonesia, kata dia, merupakan negara besar yang memiliki 17 ribu pulau dan 280 juta penduduk. Namun, 56 persen atau lebih dari 150 juta penduduknya tinggal di Pulau Jawa. Sehingga 58 persen perputaran ekonomi Indonesia terpusat di Pulau Jawa.

Karena itu, Jokowi menekankan perlunya melakukan pemerataan ekonomi yang tak lagi Jawa sentris, namun Indonesia sentris. “Terus 17 ribu pulau yang lain dapat apa. Iya ndak? Oleh sebab itu, perlu yang namanya pemerataan bukan Jawa sentris tetapi Indonesia sentris,” ujar Jokowi.

Ia menjelaskan, pembangunan infrastruktur di luar Pulau Jawa dimaksudkan untuk menumbuhkan pemerataan ekonomi dan juga mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Jokowi melanjutkan, gagasan pembangunan ibu kota baru ini sudah ada sejak era Soekarno. Saat itu, Bung Karno sudah merancang untuk memindahkan ibu kota ke Kalimantan namun tak terealisasi. Kemudian gagasan ini dilanjutkan oleh presiden berikutnya, sayangnya juga belum teralisasi. “Sekarang kita eksekusi dan sudah dimulai insyaallah bisa dalam 10 tahun, bisa 15 tahun akan selesai dan ibu kota kita di Nusantara,” ujar Jokowi.

Di akhir sambutannya, Jokowi pun mengajak masyarakat untuk bersama-sama mendoakan dan berikhtiar mewujudkan pembangunan Ibu Kota Nusantara di Kalimantan. “Saya mengajak kita semuanya untuk bersama-sama berdoa berikhtiar baik lahir maupun batin bekerja keras dengan sekuat tenaga untuk mewujudkan pembangunan Ibu Kota Nusantara sebagai pintu gerbang percepatan pembangunan di Pulau Kalimantan,” kata Presiden.

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement