Rabu 21 Dec 2022 15:17 WIB

Muhadjir: Secara De Facto, Kita Sebenarnya Keluar Pandemi

Muhadjir mengatakan, aktivitas masyarakat saat ini sudah longgar.

Rep: Fauziah Mursid/ Red: Ratna Puspita
Menko PMK Muhadjir Effendy
Foto: ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA
Menko PMK Muhadjir Effendy

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy mengatakan, Indonesia sudah siap memasuki masa endemi. Muhadjir menyebut, meski PPKM masih diberlakukan, pada praktiknya Indonesia sebenarnya seperti sudah keluar dari pandemi Covid-19.

Ini disampaikan Muhadjir merespons pernyataan Presiden Joko Widodo yang mengisyaratkan akan mengakhiri pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) tahun depan. "Selalu saya katakan bahwa de facto kita ini sebetulnya sudah keluar dari pandemi, ini tinggal untuk menetapkan kapan berakhirnya pandemi itu kan keputusan dari WHO bukan dari kita," ujar Muhadjir kepada wartawan di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (21/12/2022).

Baca Juga

Muhadjir menjelaskan, kebijakan PPKM saat ini level satu di seluruh Indonesia sehingga aktivitas masyarakat saat ini sudah longgar. "Jadi sebetulnya praktik sehari-hari kita ini kan juga sudah, sudah, sudah tidak ada PPKM ya kan gitu," ujarnya.

Muhadjir pun menunggu arahan Presiden Joko Widodo terkait kebijakan PPKM, sambil menunggu keputusan dari Badan Kesehatan Dunia (PBB) menyatakan pandemi Covid-19 berakhir. "Jadi saya dukung arahan Pak Presiden, kita tinggal nunggu perintah dari bapak Presiden tetapi secara persiapan Insya Allah sudah siap," ujar Muhadjir.

 

Namun, Muhadjir menyebut pemerintah tetap waspada dengan ancaman varian baru. "Kita tentu saja tetap harus waspada karena ternyata kan juga varian-varian baru terus bermunculan kan," ujarnya.

Sebelumnya, Presiden Jokowi dalam sambutannya di acara Outlook Perekonomian Indonesia Tahun 2023 menyampaikan, akan mengakhiri kebijakan PPKM. Ini seiring dengan penurunan kasus harian dalam beberapa hari terakhir ini.

Jokowi kemudian mengingatkan gempuran pandemi Covid-19 di awal 2020 lalu di Indonesia. Saat itu, lanjutnya, varian Delta yang masuk menyebabkan kasus harian mencapai 56 ribu kasus.

Untuk menangani kondisi darurat tersebut, 80 persen menteri-menterinya dan juga banyak masyarakat pun menyarankan kepadanya untuk melakukan kebijakan lockdown atau karantina wilayah. "Kalau itu kita lakukan saat itu mungkin ceritanya akan lain saat ini," ujar Jokowi.

Setelah Delta menyerang, muncul lagi varian lainnya yakni Omicron yang menyebabkan puncak kasus baru yang menembus hingga 64 ribu kasus. Saat itu, kata Jokowi, Indonesia menghadapi kesulitan dalam menangani pandemi, karena kekurangan tenaga kesehatan, alat pelindung diri, oksigen, dan fasilitas di rumah sakit.

"Untung saat itu kita masih tenang, tidak gugup, tidak gelagapan sehingga situasi yang sangat sulit itu bisa kita kelola dengan baik," ujarnya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement