Senin 21 Nov 2022 11:03 WIB

Penggembira Muktamar Muhammadiyah yang Menggembirakan

Muktamar yang menyedukan dan sukses.

Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Stadion Manahan, Solo, Sabtu (19/11/2022).
Foto: dok. istimewa
Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Stadion Manahan, Solo, Sabtu (19/11/2022).

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ahsan Jamet Hamidi, Warga Muhammadiyah.

 Bersyukur bisa mengikuti hajatan Muktamar Muhammadiyah di Kota Solo pada tahun 2022 ini. Saya hadir atas dua alasan yang bersamaan. Pertama, sebagai ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah di salah satu kampung Legoso - Ciputat Timur, Tangerang Selatan. 

Kedua, saya diminta memandu diskusi dalam side event yang diselenggarakan oleh Program Eco Bhinneka – Pimpinan Pusat Muhammadiyah. 

 Program ini sangat menarik. Memadukan dua isu besar yang masih menjadi masalah utama manusia. Soal kerukunan dan lingkungan hidup. Panitia mengambil sub topik diskusinya tentang upaya penyelamatan sungai di Indonesia. 

 Tulisan ini adalah hasil tangkapan batin seorang ketua Ranting Muhammadiyah. Pimpinan Ranting, adalah level kepengurusan paling rendah dalam struktur organisasi Muhammadiyah. Pengurus PRM adalah mereka yang menghidupkan jiwa dan langsung bersentuhan dengan persoalan hidup warga persyarikatan dalam kesehariannya. 

Pimpinan ranting, memang tidak termasuk golongan dari para peserta Muktamar yang bisa masuk dalam ruang sidang. Apalagi memiliki hak suara. Kecuali mereka yang mendapatkan mandat untuk menjadi utusan wilayah atau organisasi otonom. Kehadiran para pengurus ranting, rata-rata adalah sebagai penggembira. Umumnya, bersama Pengurus Cabang, mereka susah payah mengorganisir kehadiran para warga persyarikatan yang hendak menghadiri Muktamar. Mengurus semua kebutuhan peserta. Mulai dari kendaraan, penginapan, konsumsi hingga kesehatan selama dalam perjalanan.

Ketika menghadiri Muktamar Muhammadiyah di Solo ini, suasana kebatinan saya, percis sama seperti saat menjalankan umroh di Kota Madinah dan Mekkah. Begitu banyak kebaikan yang ditunjukkan oleh orang lain. Sekaligus begitu banyak permakluman dan permaafan di dalam hati saya, ketika menjumpai kekurangan dan kekhilafan orang yang ada di hadapan saya. Ada ribuan orang dari berbagai usia berkumpul dalam satu tempat yang sama. Melampaui perbedaan suku, warna kulit, asal daerah, bahkan agama. 

 Saya bertemu dua orang penggembira Muktamar dari Pontianak dan Papua. Keduanya beragama Katholik.  Saya juga menemukan sekolah-sekolah Kristen dan Katholik di kota Solo yang meliburkan diri, karena ruang sekolahnya digunakan menginap para penggembira Muktamar. Sungguh mengharukan   

 

 

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement