Selasa 15 Nov 2022 02:19 WIB

Hari Pahlawan: Dari Surabaya ke G-20 Bali

Sebagai tuan rumah G20, Indonesia juga tidak boleh melupakan Politik Non Blok.

Heka Hertanto, Ketua Umum Artha Graha Peduli
Foto: Dokumentasi pribadi
Heka Hertanto, Ketua Umum Artha Graha Peduli

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Heka Hertanto, Ketua Umum Artha Graha Peduli

Awalnya, pasukan Sekutu ke Indonesia untuk mengamankan tawanan perang, melucuti senjata Jepang, dan menjaga ketertiban di berbagai daerah di Indonesia, termasuk Surabaya. Namun, pada 27 Oktober 1945, pasukan Sekutu menyerbu penjara dan membebaskan para tawanan perwira sekutu yang ditahan oleh Indonesia.

Pasukan Sekutu mulai mendirikan pertahanan di tempat-tempat penting, seperti lapangan terbang, kantor radio, gedung internasional, dan pusat kereta api. Tidak hanya itu, mereka juga menyebarkan selebaran yang berisi imbauan agar masyarakat Surabaya segera menyerahkan senjata. Akan tetapi, rakyat Surabaya menolak menyerah kepada Sekutu.

Kondisi ini semakin mendorong rakyat Surabaya untuk melakukan perlawanan terhadap Sekutu. Pada 28 Oktober 1945, pasukan Indonesia yang dipimpin oleh Bung Tomo menyerang pos-pos pertahanan milik Sekutu. Tiga hari kemudian, 31 Oktober 1945, Brigadir Mallaby tewas di tangan para pejuang Indonesia.

 

Kejadian ini sontak menyulut kemarahan Sekutu dan memberi ultimatum agar rakyat Surabaya segera menyerah. Sekutu mengancam, rakyat Surabaya akan dihancurkan jika tidak menyerah. Masyarakat Surabaya tidak gentar dan tetap melakukan perlawanan.

Puncak pertempuran Surabaya terjadi pada 10 November 1945, ketika pasukan Sekutu menyerang Kota Surabaya. Dalam melawan Sekutu, pejuang menggunakan beberapa senjata, salah satunya senjata tradisional bambu runcing. Bung Tomo (Sutomo bin Kartawan Tjiptowijojo) mulai pidato di radio mengajak pemuda/i bangkit melawan penjajahan Belanda. 

Melalui siaran langsung, setiap hari Bung Tomo berorasi membangkitkan  semangat jihad. Setelah diputar berbagai lagu, kemudian Bung Tomo memuji kebesaran Tuhan. Bung Tomo punya radio yang untuk menggelorakan semangat juang rakyat.

“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar,…” Suara Bung Tomo berapi-api bergema. Suara lantang berpidato ala Bung Karno menjadi daya tarik pendengar masa. Warga mendengar melalui radio berkotak kayu.

“Andai tidak ada kalimat Takbir, saya tidak tahu dengan apa membakar semangat para pemuda melawan penjajah,” kata Bung Tomo kelahiran Surabaya 3 Oktober 1920 dan wafat pada 7 Oktober 1981.

Setelah tiga pekan, pertempuran Surabaya mulai mereda pada 28 November 1945. Pertempuran ini lebih banyak memakan korban jiwa dari Indonesia mencapai 20.000 orang. Sementara itu, korban jiwa di pihak Sekutu 1.500 orang.  

Penduduk juga mengungsi dari Surabaya dan bangunan-bangunan mengalami kerusakan dan kehancuran parah. Mengingat semangat para pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan selama pertempuran Surabaya, Presiden Soekarno menetapkan 10 November sebagai Hari Pahlawan. Hari Pahlawan ditetapkan melalui Keppres Nomor 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement