Jumat 04 Nov 2022 21:38 WIB

Pelaku UKM Yogyakarta Didorong Lakukan Digitalisasi

Langkah awal digitalisasi justru harus diawali dengan kualitas produk UMKM

Perajin memfotret produk kerajinan boneka rajut untuk dipromosikan pada sosial media di Susan Craft, Depok, Jawa Barat, Rabu (5/1/2022). Kementerian Koperasi dan UKM menargetkan 20 juta Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) bisa terdigitalisasi pada tahun 2022 yang sebelumnya terdigitalisasi mencapai 16,9 juta pada tahun 2021.
Foto: ANTARA/Asprilla Dwi Adha
Perajin memfotret produk kerajinan boneka rajut untuk dipromosikan pada sosial media di Susan Craft, Depok, Jawa Barat, Rabu (5/1/2022). Kementerian Koperasi dan UKM menargetkan 20 juta Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) bisa terdigitalisasi pada tahun 2022 yang sebelumnya terdigitalisasi mencapai 16,9 juta pada tahun 2021.

REPUBLIKA.CO.ID,YOGYAKARTA--Pelaku usaha kecil mikro di Kota Yogyakarta didorong untuk melakukan digitalisasi, tidak hanya dalam pemasaranatau penjualan produk, tetapi juga untuk kebutuhan mengenalkan produk secara lebih luas.

"Untuk digitalisasi, memang masih perlu terus didorong karena banyak pelaku usaha kecil mikro (UKM) yang belum memahami bagaimana melakukan digitalisasi untuk berbagai kebutuhan," kata Kepala Dinas Perindustrian Koperasi dan UKM Kota Yogyakarta Tri Karyadi Riyanto di Yogyakarta, Jumat.

Baca Juga

Selain mengenalkan berbagai media yang bisa digunakan untuk mendukung digitalisasi produk, Tri Karyadi mengatakan langkah awal digitalisasi justru harus diawali dengan kualitas produk yang dihasilkan pelaku UMKM.

Dengan produk yang berkualitas baik, lanjut dia, maka proses digitalisasi khususnya untuk kebutuhan pemasaran secara daring bisa dikelola oleh pihak lain. "Tidak harus dikelola langsung oleh perajin. Perajin bisa fokus menghasilkan dan menjaga produk yang berkualitas baik sehingga memiliki daya saing dengan produk lain," katanya.

 

Saat ini, menurut dia, salah satu media digitalisasi untuk pemasaran produk yang sudah dikenal cukup baik oleh pelaku UKM adalah media sosial seperti Instagram. "Sudah ada beberapa yang memanfaatkannya untuk mempromosikan dan melakukan transaksi produk," kata Tri Karyadi yang menyebut pemasaran secara daring juga membutuhkan kepastian stok produk.

Hal senada disampaikan Wakil Ketua Komisi B DPRD Kota Yogyakarta Oleg Yohan yang menyebut digitalisasi untuk mendukung pengembangan UKM merupakan hal yang tidak terelakkan. "Namun, perlu dirumuskan bentuk digitalisasi yang tepat digunakan oleh pelaku UKM. Sebenarnya, bisa diawali dengan memaksimalkan pemanfaatan media sosial," katanya.

Hanya saja, Oleg melihat masih banyak pelaku UKM yang belum terbiasa memanfaatkan media sosial sehingga dibutuhkan semacam pengelola profesional yang mengelola banyak UKM sekaligus. "Jadi tidak tiap UKM memiliki akun media sosial sendiri namun dikelola secara bersama-sama secara profesional. Misalnya produk UKM dari tiga kecamatan yang dipasarkan bersama melalui akun media sosial yang difasilitasi oleh dinas terkait," katanya.

Ia pun menambahkan digitalisasi tidak harus dimaknai dengan memasarkan atau melakukan transaksi secara daring tetapi bisa juga diartikan untuk mengenalkan produk secara luas. "Kami juga akan terus mendorong pemerintah untuk menggencarkan upaya digitalisasi di banyak bidang. Tidak hanya UKM tetapi juga pariwisata dan lainnya," katanya.

 

sumber : antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement