Jumat 15 Jul 2022 23:45 WIB

Soal ACT, Pemerintah Diharapkan Bersikap Proporsional

Sang Alang berharap permasalahan yang membelit ACT bisa menjadi pelajaran berharga.

Kantor Aksi Cepat Tanggap (ACT) di Jalan Lodaya, Kota Bandung kurang lebih sudah satu pekan tutup sementara. Penutupan dilakukan pasca kebijakan Kementerian Sosial (Kemensos) mencabut izin pengumpulan donasi dan barang tanggal 5 Juli lalu.
Foto: Republika/M Fauzi Ridwan
Kantor Aksi Cepat Tanggap (ACT) di Jalan Lodaya, Kota Bandung kurang lebih sudah satu pekan tutup sementara. Penutupan dilakukan pasca kebijakan Kementerian Sosial (Kemensos) mencabut izin pengumpulan donasi dan barang tanggal 5 Juli lalu.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Politisi Gerindra sekaligus musisi Indonesia, Sang Alang, berharap tak ada penggiringan opini bertendensi sepihak terkait persoalan yang dialami oleh Yayasan Aksi Cepat Tanggap (ACT). Ia melihat pemerintah begitu reaktif hingga membekukan aset milik ACT. 

"Agar terjaga akuntabilitasnya, rasanya ACT cukup diaudit dengan memanggil akuntan publik yang terpercaya. Jika benar ada penyimpangan, proses saja secara hukum para oknumnya tapi jangan membubarkan atau mencabut izin ACT," katanya kepada media di Jakarta, Jumat (15/7/2022). 

Baca Juga

Alang mengatakan, ACT selama hampir 17 tahun telah berbuat nyata buat membantu anak bangsa yang tertimpa musibah. Seharusnya, persoalan yang muncul sekarang ini pemerintah bisa bersikap proporsional. 

"Apakah karena ACT identik dengan lembaga Islam yang memiliki aset besar, lalu mereka patut diwaspadai? Kalau seperti itu cara berpikirnya, maka kita semua sudah dzalim. Ini mengingat selama ini mereka telah berbuat nyata buat negeri ini ketika tertimpa musibah," ujarnya. 

 

Pernyataan Alang ini berkaitan dengan munculnya pembentukan opini yang kurang tepat terkait ACT hingga adanya penyelewengan dana umat.

"Sebagai muslim kita harusnya ber-tabayyun. Apakah opini yang terbentuk itu valid atau memang sengaja diciptakan dengan motif-motif terselebung. Di sinilah kita harus bersikap kritis, jangan begitu saja percaya dengan narasi yang sebenarnya masih belum terverifikasi datanya," kata dia.

Sang Alang berharap permasalahan yang kini membelit ACT bisa menjadi pelajaran berharga bagi lembaga-lembaga sejenis. "Hikmahnya adalah kasus ACT ini telah membuka mata kita semua, semua amanah itu harus dijalankan secara baik. Lalu jangan pula kita begitu cepat memberikan penilaian terhadap sesuatu yang sebenarnya belum terverifikasi akurasinya. Sekali lagi, pemerintah harus bisa bijaksana," ujar dia.

Sementara itu, dilansir dari Antara, Pendiri Yayasan ACT Ahyudin mengaku siap berkorban maupun dikorbankan demi eksistensi dan keberlangsungan ACT dalam memberikan manfaat kepada masyarakat luas.

Hal ini disampaikan Ahyudin usai menjalani pemeriksaan pada hari ketiga di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta, Selasa malam. Pemeriksaan terkait penyidikan dugaan penyelewengan dana sosial ahli waris korban kecelakaan Pesawat Lion Air JT-610 yang terjadi 2018.

Demi Allah saya siap berkorban atau dikorbankan sekalipun,” kata Ahyudin dengan nada iba.

Menurut mantan Ketua Dewan Pengawas ACT itu, dirinya rela berkorban demi keberlangsungan ACT dalam memberikan manfaat kepada masyarakat luas di bidang kemanusiaan.

“Asal semoga ACT sebagai sebuah lembaga kemanusiaan yang insyaallah lebih besar manfaatnya untuk masyarakat luas, tetap bisa hadir, eksis, dan berkembang dengan sebaik-baiknya,” kata Ahyudin.

 

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement