Jumat 03 Jun 2022 03:35 WIB

OJK Sebut Kinerja BPR/BPRS di Solo Raya Tumbuh Positif

Aset BPRS di Solo Raya mampu tumbuh lebih tinggi sebesar 23,35 persen (yoy).

Rep: ANTARA/ Red: Fuji Pratiwi
Karyawan memberikan pelayanan usai peresmian kantor baru Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Solo di Jalan Slamet Riyadi, Solo, Jawa Tengah, Jumat (19/6/2020). Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut kinerja BPR/BPRS di Solo Raya sampai dengan Maret 2022 tumbuh positif seiring dengan membaiknya kondisi perekonomian meski masih di tengah pandemi Covid-19.
Foto: Antara/Mohammad Ayudha
Karyawan memberikan pelayanan usai peresmian kantor baru Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Solo di Jalan Slamet Riyadi, Solo, Jawa Tengah, Jumat (19/6/2020). Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut kinerja BPR/BPRS di Solo Raya sampai dengan Maret 2022 tumbuh positif seiring dengan membaiknya kondisi perekonomian meski masih di tengah pandemi Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, SOLO -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut kinerja BPR/BPRS di Solo Raya sampai dengan Maret 2022 tumbuh positif seiring dengan membaiknya kondisi perekonomian meski masih di tengah pandemi Covid-19.

Kepala OJK Surakarta Eko Yunianto di Solo, Kamis (2/6/2022), mengatakan, berdasarkan data kinerja BPR sampai dengan Maret 2022, aset BPR di Solo Raya tumbuh sebesar 8,83 persen secara year on year (yoy) menjadi Rp 9,32 triliun. Selanjutnya, kredit tumbuh 7,85 persen menjadi Rp 6,95 triliun dan dana pihak ketiga tumbuh 10,52 persen menjadi Rp 7,24 triliun.

Baca Juga

Sedangkan untuk BPRS sampai dengan Maret 2022, aset BPRS di Solo Raya mampu tumbuh lebih tinggi sebesar 23,35 persen secara year on year (yoy) menjadi Rp 968 miliar, pembiayaan tumbuh 20,24 persen menjadi Rp 689 miliar, dan dana pihak ketiga tumbuh 32,17 persen menjadi Rp 645 miliar. Dari sisi rencana bisnis, capaian BPR/BPRS di Solo Raya juga cukup baik dengan rata-rata realisasi mencapai lebih dari 90 persen dari target rencana bisnis.

Sementara itu, dikatakannya, salah satu pilar kebijakan dalam Roadmap Pengembangan Perbankan Indonesia 2020-2025 adalah akselerasi transformasi digital perbankan yang dijabarkan lebih lanjut melalui cetak biru transformasi digital perbankan. Ia mengatakan cetak biru transformasi digital perbankan berisikan lima elemen utama yaitu data, teknologi, manajemen risiko, kolaborasi, dan tatanan institusi.

 

"Implementasi cetak biru ini diharapkan dapat mendorong perbankan nasional lebih memiliki daya tahan, berdaya saing, dan kontributif," kata Eko.

Sebelumnya, OJK menyelenggarakan kegiatan Evaluasi Kinerja dan Capacity Building Semester I 2022 BPR dan BPRS di Solo Raya. Melalui kegiatan tersebut, pihaknya berharap agar BPR/BPRS di Solo Raya dapat meningkatkan kinerja dan mengembangkan industri BPR/BPRS yang sehat serta mewujudkan sistem keuangan yang tumbuh secara berkelanjutan.

"Selain itu juga mampu mendorong terwujudnya penerapan tata kelola yang baik bagi BPR/BPRS," kata Eko.

 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement