Rabu 06 Apr 2022 08:13 WIB

Korban Gempa di Kajai Pasaman Barat Masih Tidur di Tenda Darurat

Huntara memang ada namun tidak seberapa bisa menampung warga.

Contoh hunian sementara yang dibangun Palang Merah Indonesia (PMI) untuk korban gempa di Nagari Kajai, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat  (ilustrasi)
Foto: Antara/Iggoy el Fitra
Contoh hunian sementara yang dibangun Palang Merah Indonesia (PMI) untuk korban gempa di Nagari Kajai, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, SIMPANG EMPAT -- Korban gempa di Lubuk Panjang Kajai Kecamatan Talamau Kabupaten Pasaman Barat, Sumatra Barat, hingga saat ini masih tidur di tenda darurat yang berdiri dekat rumah mereka yang ambruk. "Hunian sementara (huntara) memang ada namun tidak seberapa bisa menampung warga. Kami sangat kekurangan huntara," kata salah seorang warga Lubuk Panjang Kajai Febri (40), Rabu (6/4/2022).

Menurutnya, di Lubuk Panjang Jorong Kampung Alang Kajai saja sekitar 229 unit rumah warga rusak dan rusak berat sekitar 180 unit. Sementara hunian sementara yang ada baru sekitar 23 unit yang didirikan oleh Pramuka Sijunjung 12 unit, organisasi gerak barang Bandung lima unit dan dari Palang Merah Indonesia Pasaman Barat sebanyak enam unit. "Dengan jumlah kerusakan rumah yang mencapai 229 itu maka huntara masih kekurangan jauh," ujarnya.

Baca Juga

Warga saat ini bermalam di tenda darurat yang ada dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. "Warga yang rumahnya rusak berat tidak bisa kembali ke rumah. Bagi yang rusak ringan masih trauma karena gempa susulan hingga saat ini terus terjadi," ucapnya.

Warga lainnya Robi (33) mengatakan saat ini warga sangat membutuhkan hunian sementara karena tidur di tenda sangat menyedihkan.

"Untung saja cuaca saat ini musim panas. Jika hujan maka air akan mengenai tenda darurat itu," ujarnya.

Selain kebutuhan penambahan hunian sementara, warga juga sangat membutuhkan alat berat untuk merobohkan rumah yang rusak dan dump truk membawa material bangunan nantinya. "Dengan seringnya gempa susulan, kami khawatir bangunan yang sudah retak akan runtuh. Selain itu jika diruntuhkan secara manual akan beresiko tertimpa material. Jadi kami sangat membutuhkan bantuan alat berat," katanya berharap.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement