Jumat 29 Oct 2021 16:50 WIB

Daerah Diminta Waspada Hadapi Dampak La Nina

La Nina berpotensi meningkatkan curah hujan yang mendorong peningkatan bencana.

Suasana gedung bertingkat yang diselimuti awan gelap terlihat dari kawasan Kuningan, Jakarta, Rabu (27/10). Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyampaikan peringatan dini waspada fenomena La Nina menjelang akhir tahun 2021 yang menyebabkan peningkatan curah hujan. Republika/Putra M. Akbar
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Suasana gedung bertingkat yang diselimuti awan gelap terlihat dari kawasan Kuningan, Jakarta, Rabu (27/10). Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyampaikan peringatan dini waspada fenomena La Nina menjelang akhir tahun 2021 yang menyebabkan peningkatan curah hujan. Republika/Putra M. Akbar

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Ganip Warsito meminta daerah rawan bencana hidrometeorologi meningkatkan kewaspadaan dan langkah mitigasi menghadapi fenomena La Nina. Badai La Nina diprediksi berlangsung sampai awal tahun depan.

"Pada level yang lebih kecil, yaitu kabupaten/kota, kewaspadaan serta mitigasi dampak La Nina mutlak dilakukan," kata Kepala BNPB Ganip dalam Rapat Koordinasi Antisipasi La Nina yang diadakan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), yang dipantau secara daring dari Jakarta, Jumat (29/10).

Baca Juga

Secara khusus, Ganip menyoroti beberapa provinsi yang mencatatkan bencana hidrometeorologi basah seperti banjir dan tanah longsor terbanyak pada 2016-2020. Menurut data BNPB, daerah itu yakni, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan.

Dia memberi contoh bagaimana di Jawa Barat, kabupaten/kota yang memerlukan atensi karena kejadian bencana yang tinggi, seperti Kabupaten Bogor, Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Bandung.

 

Sedangkan di Jawa Tengah adalah Kabupaten Cilacap, Kota Semarang dan Kabupaten Banyumas. "Upaya mitigasi dan kesiapsiagaan jangka pendek dalam menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi basah dapat dilakukan, di antaranya dengan lima langkah, yakni kita perlu melakukan apel kesiapsiagaan," jelas Ganip.

Apel itu dilakukan untuk memeriksa kesiapan personel, alat dan saran pendukung lainnya. Upaya lain adalah segera menyusun rencana kontinjensi dari dampak bencana hidrometeorologi yang disebabkan La Nina. Langkah lain adalah penyiapan status siaga darurat di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Upaya mitigasi yang perlu dilakukan adalah penanaman vegetasi, pembersihan saluran air, pembenahan tanggul sungai, penguatan lereng menggunakan beton maupun vegetasi, serta optimalisasi drainase permukaan.

Selain itu, melakukan upaya kesiapsiagaan yang berbasis masyarakat dengan memonitor peringatan dini dari BMKG. BMKG melakukan monitor adanya fenomena La Nina lemah sampai akhir tahun dan kondisi itu akan terus bertahan sampai Februari 2022 dengan level menengah. Fenomena La Nina berpotensi meningkatkan curah hujan yang juga mendorong peningkatan bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement