REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Mahdi kehilangan segalanya dalam banjir bandang November lalu. Kini, ia menyambut bulan suci dengan luka yang masih perih, dan semangat yang tak pernah padam.
Telunjuk Mahdi mengarah ke sebuah batang pohon tumbang. Suaranya mantap, hampir bersemangat.
"Yang di sana, di batang pohon itu, rumah saya dulu."
Matanya berbinar sekilas, seolah masih melihat dinding kayu yang kokoh, beranda tempat anak-anaknya bermain, dan dapur tempat istrinya memasak. Tapi kemudian pandangannya jatuh, ke hamparan kosong yang hanya dipenuhi bebatuan dan kayu-kayu patah.
Tak ada puing. Tak ada sisa. Hanya kekosongan yang berbicara lebih keras dari kata-kata.
Jari telunjuknya berpindah lagi, menunjuk ke arah lain yang tak jauh berbeda. "Nah, itu rumah bapak. Sebelah sana itu rumah saudara juga."
Siapa pun yang mendengar nada suaranya pasti akan menoleh, mengikuti arah tangannya. Mencari rumah yang tak pernah ada. Karena semua sudah hilang. Tersapu banjir bandang pada November 2025.
Mahdi, 40 tahun, atau Adi, sapaan akrabnya, adalah salah satu dari 326 warga Dusun Lhok Pungki yang kehilangan tempat tinggal. Dusun kecil itu terletak di Desa Gunci, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara. Kini, orang-orang menyebutnya dengan sebutan lain: "Dusun yang Hilang."
Nyaris seluruh rumah di sana lenyap ditelan banjir dan tanah longsor. Hanya beberapa rumah di tepi sungai yang tersisa, dan itu pun sudah tak berpenghuni. Semua warga, 85 kepala keluarga, kini mengungsi di Dusun Paya Reubek, masih di wilayah desa yang sama.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana memperingatkan mereka untuk tak kembali. Kawasan itu kini masuk kategori rawan bencana.
Tapi sesekali, Adi tetap datang. Kakinya membawa tubuhnya kembali ke tanah yang dulu ia sebut rumah. Bukan karena ada yang tersisa. Melainkan karena ada yang dirindukan.
Duri Berbalut Rindu
Setiap kali menginjakkan kaki di Lhok Pungki, Adi merasakan perih yang sama. Seperti menginjak duri berbalut rindu.
Hatinya kalut. Ia rindu kehangatan orang tuanya. Rindu beranda rumah tempat mereka duduk bersama di sore hari. Rindu aroma masakan ibunya yang menyambut dari jauh.
Tapi setiap kali ia sampai, yang ada hanya kekosongan. Rumah ayahnya sudah tak ada. Kuburan keluarganya pun hanyut terbawa arus.
"Aku pun pulang, turun sini... mau lihat..." Suaranya tercekat. "Nanti turun di sebelah sana itu, kuburan... aku... tidak ada orang tua lagi."
Kata-kata itu keluar terbata-bata. Suaranya bergetar. Pelupuk matanya perlahan membasah.