Rabu 28 Jul 2021 10:07 WIB

Pemda Pantau Pembelajaran di Sekolah Selama Pandemi

Para murid yang tidak bisa belajar daring, akan diberikan modul.

Sejumlah pelajar mengikuti Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) secara daring di Masjid Dzawil Arham, Cibodas, Kota Tangerang, Banten, Senin (24/8/2020). Pemerintah Kota Tangerang menyediakan jaringan internet gratis sebanyak 168 titik dari total target sebanyak 947 titik untuk membantu pelajar yang memiliki kendala kuota internet saat PJJ di tengah pandemi COVID-19.
Foto: ANTARA/Fauzan
Sejumlah pelajar mengikuti Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) secara daring di Masjid Dzawil Arham, Cibodas, Kota Tangerang, Banten, Senin (24/8/2020). Pemerintah Kota Tangerang menyediakan jaringan internet gratis sebanyak 168 titik dari total target sebanyak 947 titik untuk membantu pelajar yang memiliki kendala kuota internet saat PJJ di tengah pandemi COVID-19.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Kepala Sekolah SMPN 7 Satu Atap Panggarangan, Banten, Ujo Robi Saputra mengatakan saat ini sekolahnya masih melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) baik dalam jaringan dan luar jaringan. Namun, masalah yang sering terjadi dalam pembelajaran yakni jaringan internet yang tidak lancar. "Hambatannya masalah jaringan itu, karena di sini kondisi geografisnya blank spot. Di pertengahan keramaian kota, sehingga jaringan itu masalah utama," kata Ujo.

Terkait masalah ini, Ujo menjelaskan pihaknya selalu berkoordinasi dengan pemerintah daerah. Pihak dinas setempat sudah menampung kendala-kendala yang sering dialami oleh sekolahnya.

Salah satu masukan dari dinas, kata Ujo yakni usulan mengenai pembelajaran luring. Hal ini penting agar pembelajaran siswa tetap terjamin pelaksanannya. Ia mengatakan, melalui dinas, pihaknya menerima bantuan modul yang dibuat oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).

Ia menjelaskan, hanya beberapa murid yang bisa mengikuti pembelajaran daring dengan lancar. Bagi murid yang tidak bisa mengikuti pembelajaran secara daring, maka sekolah memfasilitasi mereka dengan pembelajaran luring. Pembelajaran luring ini memanfaatkan modul dari pemerintah.

Sistemnya adalah para murid yang tidak bisa belajar daring, akan diberikan modul. Ujo menjelaskan, pihaknya juga memanfaatkan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) afirmasi untuk membeli tablet dan diberikan kepada siswa yang membutuhkan. Beberapa modul itu pun diinstall di dalam tablet untuk dipinjamkan kepada murid yang membutuhkan.

Para murid kemudian dibagi jadwal selama Senin sampai Sabtu, hanya satu hari mereka harus ke sekolah. "Mereka berkumpul tapi dengan pembatasan maksimal 50 persen mereka hadir di sini. Dengan pembagian waktu yang sudah ditentukan berdasarkan jadwal satu pekan sekali," kata Ujo.

Sementara itu Kepala KB Bahrul Ulum Lhokseumawe, Aceh, Nurul mengatakan dalam melaksanakan pembelajaran pihaknya juga telah berkoordinasi dengan pemerintah setempat. Pemantauan sudah dilakukan sebelum pembelajaran tatap muka diberlakukan di KB tersebut. "Ada pemantauan. Dari kemarin ada pemeriksaan, adakah orang kerumun di depan," kata Nurul.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement