Rabu 30 Jun 2021 22:00 WIB

Kini tak Semua Pasien Covid-19 di Bekasi Bisa Diterima RSUD

Jumlah pasien Covid dirawat di RSUD Kota Bekasi dibatasi 75 persen dari kapasitas.

Rep: Uji Sukma Medianti/ Red: Andri Saubani
Tenaga kesehatan memeriksa sejumlah pasien di halaman RSUD Chasbullah Abdulmajid Kota Bekasi, Jawa Barat, Ahad (27/6). Kasus Covid-19 di Indonesia masih terus mengalami lonjakan, berdasarkan data dari Satuan Tugas Penanganan Covid-19 pada Minggu 27 Juni 2021 jumlah kasus positif covid-19 bertambah sebanyak 21.324 orang dengan total kasus Covid-19 di Indonesia mencapai 2.115.304 orang. Republika/Thoudy Badai
Foto: Republika/Thoudy Badai
Tenaga kesehatan memeriksa sejumlah pasien di halaman RSUD Chasbullah Abdulmajid Kota Bekasi, Jawa Barat, Ahad (27/6). Kasus Covid-19 di Indonesia masih terus mengalami lonjakan, berdasarkan data dari Satuan Tugas Penanganan Covid-19 pada Minggu 27 Juni 2021 jumlah kasus positif covid-19 bertambah sebanyak 21.324 orang dengan total kasus Covid-19 di Indonesia mencapai 2.115.304 orang. Republika/Thoudy Badai

REPUBLIKA.CO.ID, BEKASI -- Meningkatnya kasus Covid-19 di Kota Bekasi membuat fasilitas kesehatan penuh. Antrean pasien pun terjadi di RSUD Chasbullah Abdulmadjid, Kota Bekasi dalam sepekan terakhir.

Untuk menanggulangi hal ini, Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi, mengatakan, kini tak semua pasien Covid-19 bisa datang ke RSUD meskipun bergejala.

Baca Juga

"Kalau diare dan pusing isolasi di rumah. Tapi kalau sudah sesak napas ini bawa ke triase karena di sini ada dokter dan oksigen," kata pria yang akrab disapa Pepen, Rabu (30/6).

Sementara pasien dengan komorbid, seperti jantung bisa dirujuk ke rumah sakit umum. Pepen mengatakan, sebelumnya pasien dengan gejala ringan banyak yang mendatangi rumah sakit. Hal ini menjadi salah satu pemicu menumpuknya pasien di RSUD.

"Sekarang kan orang baru pusing sudah dibawa ke rumah sakit umum makanya sekarang jadi penuh," terangnya.

Pemkot Bekasi saat ini juga membatasi jumlah pasien Covid-19 yang dirawat di RSUD Chasbullah Abdulmadjid sebesar 75 persen kapasitas. Hal ini menepis adanya kemungkinan ditutupnya Instalasi Gawat Darurat (IGD) untuk pasien Covid-19 seperti yang dilakukan oleh Pemkab Bekasi.

"Saya enggak mau. Saya kasih target setinggi-tingginya 75 persen buat Covid-19, 25 persen non-Covid," kata Pepen.

Pengendalian Covid-19 dari sisi hilir, kata Pepen, sapaan akrabnya, sudah diupayakan dengan menambah tenda-tenda triase di halaman parkir RSUD, kini jumlahnya mencapai 10 tenda.

"Di sini sudah kita tambah, triase, IGD-nya juga udah kita tambah, rumah sakit swasta kita minta 40 persen kapasitas," ungkapnya.

 

 

Pepen juga menetapkan situasi darurat di wilayahnya. Hal itu lantaran ada 72 orang yang meninggal dalam sehari karena Covid-19.

"Kita tetapkan sekarang darurat kan sudah 72 orang yang meninggal dalam sehari," kata Pepen.

Jumlah korban meninggal ini, belum termasuk dari rumah sakit swasta lain. Dalam menghadapi situasi ini, Pepen mengatakan tidak bisa lagi menggunakan istilah pengetatan makro.

"Pengendalian darurat itu berbeda,rumah sakit sudah penuh, nakes sudah banyak yang kena, pemakamannya juga sama," ungkap Pepen.

Sebelumnya, diberitakan ruang instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat untuk sementara tidak menerima pasien non-Covid-19. Hal itu karena saat ini tingkat keterisian ruangan itu sudah mencapai 100 persen.

"Khusus IGD ya, mulai hari ini hanya bisa melayani pasien COVID-19, bagi pasien non-Covid-19 bisa ke klinik terdekat," kata Direktur Utama RSUD Kabupaten Bekasi dr Sumarti di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Selasa (29/6).

Dia mengatakan, pasien non-Covid-19 tetap akan dilayani, namun tidak di ruang IGD. Pihaknya telah menyiapkan poliklinik khusus hingga skema merujuk pasien ke rumah sakit terdekat.

"Tetap boleh masuk, kami sudah menyiapkan jalur khusus menuju atas (poliklinik) agar tidak kontak langsung dengan pasien Covid-19. Kalau ada pasien non-Covid yang kondisinya sudah kritis, kami juga sudah siapkan rujukan," kata Sumarti.

 

photo
Infografis dokter dan tenaga kesehatan yang wafat akibat Covid-19 - (Republika)

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement