Senin 14 Jun 2021 10:15 WIB

Ruang Isolasi Pasien Covid Bandung Hampir Penuh

Kurang dari 200 tempat tidur untuk Covid tersisa di RS Kota Bandung.

Rep: M Fauzi Ridwan/ Red: Indira Rezkisari
Keluarga pasien bersama petugas kesehatan membawa pasien ke ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Dokter Hasan Sadikin (RSHS), Kota Bandung, Ahad (13/6). Berdasarkan data dari Pusat Informasi dan Koordinasi Covid-19 Provinsi Jawa Barat (Pikobar) pada (12/6), tingkat keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR) rumah sakit yang melayani Covid-19 dan tidak melayani Covid-19 telah mencapai 67,31 persen dengan rincian sebanyak 9.120 dari total 13.550 tempat tidur telah terisi. Foto: Republika/Abdan Syakura
Foto: REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA
Keluarga pasien bersama petugas kesehatan membawa pasien ke ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Dokter Hasan Sadikin (RSHS), Kota Bandung, Ahad (13/6). Berdasarkan data dari Pusat Informasi dan Koordinasi Covid-19 Provinsi Jawa Barat (Pikobar) pada (12/6), tingkat keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR) rumah sakit yang melayani Covid-19 dan tidak melayani Covid-19 telah mencapai 67,31 persen dengan rincian sebanyak 9.120 dari total 13.550 tempat tidur telah terisi. Foto: Republika/Abdan Syakura

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Keterisian ruang isolasi bagi pasien Covid-19 di rumah sakit di Kota Bandung terus meningkat mencapai 88,67 persen. Dari total 1.739 tempat tidur yang tersedia di rumah sakit di Kota Bandung, sebanyak 1.542 tempat tidur telah terisi dan 197 tempat tidur yang tersisa.

"Jumlah keterisian tempat tidur 88,67 persen atau 1.739," ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung, dr Ahyani Raksanagara, saat dikonfirmasi, Senin (14/6). Ia mengatakan, jumlah tempat tidur bertambah dari sebelumnya 1.712 menjadi 1.739 tempat tidur.

Baca Juga

Ahyani menegaskan, penanganan pandemi Covid-19 yang saat ini berlangsung harus dilakukan berlapis. Terkait banyak pertanyaan mengapa terjadi peningkatan pasien di rumah sakit, ia mengatakan bahwa pelayanan di rumah sakit merupakan benteng terakhir dalam penanganan Covid-19.

Ia menjelaskan, pertahanan lain yang harus dilakukan di masyarakat, yaitu pelaksanaan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) mikro di tingkat RT serta memastikan warga disiplin 5M dan juga saling mengingatkan. Apabila ada yang melanggar, dapat ditindak.

"Mengawasi kegiatan warga di sana melaksanakan 5M, selalu menggunakan masker, menjaga jarak, tidak ada kumpul-kumpul, dan segala kegiatan tidak sesuai protokol kesehatan," katanya.

Ia melanjutkan, masyarakat harus memantau kesehatan para pendatang, mengawasi yang melakukan isolasi mandiri, serta memenuhi kebutuhannya. Ditambah dengan mengaktifkan tempat karantina.

"Pencegahan penularan di tingkat keluarga, orang tua mengingatkan dan melaksanakan perilaku sesuai protokol kesehatan, mulai dari diri sendiri dan keluarga," katanya.

Selain itu, pencegahan penularan di komunitas, yaitu semua yang beraktivitas melaksanakan 5M. Selain itu, warga yang terpapar Covid-19 tanpa gejala, gejala ringan dan sedang melakukan isolasi mandiri harus disiplin. Sedangkan jika tidak siap, dapat dipindahkan ke ruang isolasi mandiri.

Ahyani menegaskan, apabila poin-poin tersebut tidak diperkuat, semua beban berada di benteng terakhir pertahanan, yaitu di rumah sakit.

Sementara itu, Keterisian ruang isolasi intensif bagi pasien Covid-19 di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung hingga Ahad (13/6) kemarin mencapai 91,88 persen.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement