Selasa 23 Mar 2021 12:45 WIB

Menkes Ungkap Alasan Indonesia tak Bisa Pilih Jenis Vaksin

Seluruh negara berebut mendapatkan vaksin Covid-19 yang produksinya masih terbatas.

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Friska Yolandha
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan alasan Indonesia tidak bisa memilih jenis vaksin Covid-19 yang didatangkan dari luar negeri untuk didistribusikan kepada masyarakat.
Foto: ANTARA/Hafidz Mubarak A
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan alasan Indonesia tidak bisa memilih jenis vaksin Covid-19 yang didatangkan dari luar negeri untuk didistribusikan kepada masyarakat.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan alasan Indonesia tidak bisa memilih jenis vaksin Covid-19 yang didatangkan dari luar negeri untuk didistribusikan kepada masyarakat. Alasannya, kata dia, karena seluruh negara di dunia berebut mendapatkan vaksin Covid-19 yang produksinya masih terbatas. Di mana perkiraan kapasitas produksinya baru sekitar tiga hingga empat miliar dosis per tahun.

Padahal, untuk menciptakan kekebalan komunal, 70 persen dari sekitar 7,8 miliar penduduk bumi harus divaksinasi. Dari jumlah tersebut, kata dia, sekitar 5,5 miliar manusia harus divaksinasi. Karena, masing-masing orang butuh dua dosis, dibutuhkan setidaknya 11 miliar dosis vaksin untuk menciptakan kekebalan komunal.

Baca Juga

"Alhamdulillah, Indonesia bisa dapat untuk vaksinasi 181,5 juta rakyat kita. Sekitar 360 juta lebih dosis. Sekarang kita sudah dapat, dapatnya gak bisa milih-milih karena itu rebutan seluruh dunia," kata Budi di Kantor PWNU Jatim, Surabaya, Selasa (23/3).

Budi mengungkapkan, Indonesia mendapat jatah empat jenis vaksin Covid-19. Yakni vaksin Sinovac, AstraZeneca, Novavax, dan Pfizer. "Kita berharap ini langsung kita vaksinasikan dalam waktu 12 bulan ke 181,5 juta rakyat Indonesia," kata dia.

 

Budi menyatakan, seluruh dunia sudah menyampaikan, vaksin Astrazeneca sangat bermanfaat untuk melindungi manusia. Bahkan, di negara-negara Islam, sudah ditegaskan vaksin tersebut aman dan halal. Pemerintah, kata dia, juga perlu meyakinkan rakyatnya terlindungi dengan semua vaksin yang ada.

Baca juga : Studi: 1 dari 3 Penyintas Covid-19 Menderita Long Covid

"Apalagi, AstraZeneca ini target kita lebih dari 100 juta kita peroleh. Mudah-mudahan dengan kiai dari NU berkenan divaksin ini bisa membangkitkan semua masyarakat bahwa vaksin ini aman dan halal dipakai," kata Budi.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement