Senin 09 Nov 2020 06:44 WIB

Imam Shamsi Ungkap Alasan Biden Lebih Layak daripada Trump

Biden lebih bersahabat dan membuka ruang yang sama untuk komunitas Muslim.

Rep: Muhyiddin/ Red: Agus Yulianto
Imam Masjid New York, Shamsi Ali
Foto: Republika TV
Imam Masjid New York, Shamsi Ali

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden Nusantara Foundation di Amerika Serikat (AS), Ustaz Imam Shamsi Ali mengungkapkan beberapa alasan presiden AS terpilih, Joe Biden lebih layak dibandingkan pendahulunya, Donald Trump. Dalam catatannya, Imam Shamsi memberikan penilaian dengan metode akhaffu ad-dhoraraen.

"Di saat tidak ada yang terbaik maka Islam memakai metode akhaffu ad-dhoraraen (paling sedikit bahayanya)," katanya dalam keterangam tertulis yang telah dikonfirmasi pada Imam Shamsi Ali, Ahad (8/11). 

Dia menjelaskan, Partai Demokrat yang mengusung Biden, dalam sejarahnya lebih bersahabat dan membuka ruang yang sama untuk komunitas Muslim. Karena itu, menurut dia, Biden akan segera mencabut aturan Trump “Muslim Ban” atau pelarangan orang-orang Islam masuk Amerika, sehingga Biden lebih layak dibandingkan Trump. 

Selain itu, menurut dia, Biden juga berkomunikasi langsung dengan komunitas Muslim selama kampanye. Bahkan, Biden berjanji mengikutkan komunitas Muslim dalam pemerintahan, serta berjanji akan lebih terbuka dan fair (imbang) dalam menyikapi isu Timur Tengah.

"Biden juga akan membangun komunikasi dan kerjasama dengan dunia Islam (bukan memakai/memaksa) berdasar mutual interest (kepentingan bersama)," ujarnya. 

Imam Shamsi mengatakan, komunitas Muslim juga akan merasakan proteksi sistem (kekuasaan) di bawah pemerintahan Joe Biden. Minimal, kata dia, Islamofobia akan mendapatkan resistensi sistem.

"Bukan sebaliknya, (Islamofobia) mendapat pembenaran kekuasaan seperti di zaman Trump," ucapnya. 

Dia menjelaskan, di bawah Trump juga telah terjadi rasisme, bahkan kekerasan atas nama rasisme di mana-mana. Lingkungan rasisme Trump tersebut bahkan telah berimbas pada keadilan perekonomian. 

"Di bawah Trump kesempatan imigrasi juga hampir ditutup. Ini bertentangan dengan semangat Amerika sebagai negara imigran," katanya. 

Di samping itu, tambah dia, Trump juga telah membangun suasana yang memecah belah masyarakat atas banyak dasar. Salah satunya yang paling menonjol adalah perpecahan ras (racial divide). 

"Memperkecil ruang kelompok putih dan golongan kanan yang ekstrem. Dalam hal ini, Biden dengan tegas mengutuk white supremacy. Sementara, Trump tidak ingin bahkan memuji sebagai patriotik," ujar Shamsi Ali. 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement