Jumat 27 Mar 2020 07:13 WIB

Pemprov Jatim Tinjau Ulang Program Mudik Gratis

Pemda perlu berhati-hati dan siaga jika ada warga yang melakukan mudik lebih awal.

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Agus Yulianto
Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa.
Foto: Dokumen.
Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Pemerintah Provinsi Jawa Timur akan melakukan peninjauan ulang terkait program mudik gratis yang setiap tahun digelar menjelang lebaran idul fitri. Peninjauan ulang dilakukan terkait mewabahnya virus corona (Covid-19). Namun demikian, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan, pihaknua bukan membatalkan program mudik gratis.

Menurutnya, hanya melakukan tinjau ulang sembari melihat perkembangan wabah virus corona. "Jadi ini opsi saja, bukan ditiadakan atau dihentikan. Karena saya berharap ya virusnya yang berhenti, mudik gratisnya tetap jalan," kata Khofifah di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Kamis (26/3).

Terkait informasi adanya warga yang mudik lebaran lebih awal dari Jakarta ke Jatim, Khofifah belum bisa memastikan kebenarannya. Dia menyatakan, sejauh ini pihaknya hanya mendapatkan informasi, pemerintah daerah perlu berhati-hati dan siaga jika ada warga yang melakukan mudik lebih awal.

Namun demikian, Khofifah mengimbau, bagi warga Jatim yang berada di Jakarta, atau daerah terjangkit Covid-19 lainnya, agar sementara tidak melakukan mudik. Karena dikhawatirkan, mereka akan membawa virus corona ke daerah asalnya, yang bisa menyebarkan ke keluarga atau tetangganya.

"Namun kalau saya ditanya, yang aman ya tetap diam di rumah karena kalau ke luar rumah berarti ya berisiko. Apalagi jika pekerjaannya berada di daerah yang terjangkit," ujar Khofifah.

Seperti diketahui, pemerintah pusat masih menggodok kebijakan mudik Lebaran 2020, dimana di dalamnya terdapat pertimbangan larangan mudik. Kebijakan tersebut disiapkan terkait wabah virus cirona yang meluas di Indonesia. Namun demikian, rencana tersebut belum ada keputusan finalnya, karena masih menunggu kondisi penyebaran virus corona.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement