Senin 02 Mar 2020 18:00 WIB

Sembilan Anak di Sikka Meninggal Akibat DBD

Sembilan anak meninggal akibat demam berdarah dengue (DBD) di Sikka, NTT

Rep: Antara/ Red: Christiyaningsih
Pasien demam berdarah dengue (ilustrasi). Sembilan anak meninggal akibat demam berdarah dengue (DBD) di Sikka, NTT.
Foto: Republika/Prayogi
Pasien demam berdarah dengue (ilustrasi). Sembilan anak meninggal akibat demam berdarah dengue (DBD) di Sikka, NTT.

REPUBLIKA.CO.ID, KUPANG - Sembilan anak meninggal akibat demam berdarah dengue (DBD) yang menyerang Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Jumlah korban ini tercatat sejak Januari hingga Maret 2020.

Keterangan ini disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur Dominikus Minggu Mere ketika dihubungi di Kupang pada Senin (2/3). Berdasarkan data Dinas Kesehatan NTT terdapat 950 kasus DBD dengan sembilan penderita meninggal.

Baca Juga

Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Sikka perlu melakukan upaya penanggulangan serangan DBD. Caranya dengan mengoptimalkan kegiatan kerja bakti guna membersihkan sarang nyamuk.

"Dalam mengatasi serangan DBD hanya dengan menjaga kebersihan lingkungan. Masyarakat di Sikka agar secara serius melakukan pembersihan sarang nyamuk (PSN) sehingga serangan DBD tidak terus meluas," ujarnya.

Ia mengatakan sejumlah daerah di NTT seperti Kota Kupang, Kabupaten Manggarai Barat, dan Sumba Timur merupakan daerah rawan KLB DBD. Namun karena pemerintah sangat serius dalam mengatasi persoalan kebersihan, pada 2020 tidak terjadi KLB DBD seperti pada tahun sebelumnya.

Dominggus berharap pemerintah dan masyarakat di Sikka secara gotong royong membersihkan lingkungan. Tujuannya untuk mencegah berkembang biaknya nyamuk aedes aygepti yang mengakibatkan terjadinya DBD. Apabila lingkungan permukiman warga bersih dari sarang nyamuk, maka dapat dipastikan serangan DBD yang telah menyerang warga di 19 kecamatan itu dapat dikendalikan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement