Selasa 26 Mar 2019 19:36 WIB

BMKG Kembali Uji Coba Sirine Tsunami di Cilacap

Uji coba ini guna memastikan sirine di lokasi tersebut beroperasi baik.

Pengendara melintas di samping tanggul pengaman pantai yang ambruk akibat gempa dan tsunami di Kawasan Penggaraman, Palu, Sulawesi Tengah, Senin (4/2/2019).
Foto: Antara/Mohamad Hamzah
Pengendara melintas di samping tanggul pengaman pantai yang ambruk akibat gempa dan tsunami di Kawasan Penggaraman, Palu, Sulawesi Tengah, Senin (4/2/2019).

REPUBLIKA.CO.ID, CILACAP -- Badan Meteorologi Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bekerja sama dengan BPBD kabupaten Cilacap, Selasa (26/3) kembali melakukan uji coba alat peringatan dini tsunami di kabupaten Cilacap, Jawa Tengah (Jateng). Uji coba ini guna memastikan sirine di lokasi tersebut beroperasi baik.

"Petugas dari Stasiun Geofisika Banjarnegara ikut mendampingi uji coba tersebut dan hasilnya beroperasi dengan baik," kata Kepala Stasiun Geofisika Banjarnegara, Setyoajie Prayoedhi di Cilacap, Selasa.

Baca Juga

Dia menjelaskan, uji coba tersebut merupakan kegiatan rutin bulanan yang dilakukan di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah(Jateng). "Lokasinya masih sama dengan ujicoba pada Februari 2019 yaitu di kantor Kelurahan Tegal Kamulyan, Kabupaten Cilacap dan BTS Telkomsel di kelurahan Jetis kabupaten Cilacap," katanya.

Dia mengemukakan, dari hasil uji coba diketahui bahwa sirine di Tegal Kamulyan berbunyi sesuai dengan protokol sirine yang telah ditetapkan, pada pukul 10.00 waktu setempat. Selain itu juga telah dicoba aktivasi secara otomatis dari BMKG Pusat dan berhasil sebanyak tiga kali.

Dia menambahkan, sirine di Jetis juga berbunyi sesuai dengan protokol sirine yang telah di tetapkan, pada pukul 10.02 waktu setempat berbunyi dengan baik dan di aktivasi secara otomatis dari BMKG Pusat juga telah berbunyi sebanyak tiga kali. Setyoajie mengatakan, kegiatan rutin tersebut dilakukan untuk memastikan perangkat yang ada dapat dioperasikan sewaktu-waktu ketika dibutuhkan.

"BMKG ingin memastikan bahwa seluruh perangkat peringatan dini tsunami dalam kondisi baik dan dapat beroperasi dengan baik kapanpun dibutuhkan," katanya.

Dia juga mengatakan kegiatan tersebut dilakukan sebagai bentuk mitigasi atau upaya pengurangan risiko bencana tsunami. "Ini dilakukan dalam rangka pengurangan risiko bencana gempa dan tsunami di wilayah sekitar," tandas Setyoajie.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement