Kamis 28 Feb 2019 21:29 WIB

Okupansi Hotel di Lombok Barat Kini tak Lebih dari 15 Persen

Okupansi hotel yang minim di Lombok Barat mempengaruhi pelaku usaha wisata

Rep: Muhammad Nursyamsyi/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Sejumlah wisatawan asing bermain olahraga air di pantai Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika di Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Praya, Lombok Tengah, NTB, Kamis (16/8). Kawasan wisata Mandalika tidak terdampak oleh bencana gempa dan tetap ramai dikunjungi wisatawan asing, pihak ITDC mengundang wisatawan untuk tetap berkunjung ke kawasan pariwisata Lombok
Foto: Ahmad Subaidi/Antara
Sejumlah wisatawan asing bermain olahraga air di pantai Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika di Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Praya, Lombok Tengah, NTB, Kamis (16/8). Kawasan wisata Mandalika tidak terdampak oleh bencana gempa dan tetap ramai dikunjungi wisatawan asing, pihak ITDC mengundang wisatawan untuk tetap berkunjung ke kawasan pariwisata Lombok

REPUBLIKA.CO.ID, MATARAM -- Kepala Dinas Pariwisata Lombok Barat Ispan Junaidi mengatakan okupansi hotel di wilayahnya tak lebih dari 10 hingga 15 persen. Ispan mengatakan hal tersebut saat menghadiri rapat koordinasi nasional (rakornas) di Hotel Sultan, Jakarta, Kamis (28/2).

"Sekarang ini kondisi pariwisata kita sangat anjlok. Hasil laporan teman-teman perhotelan, okupansi di hotel mereka tidak bisa lebih dari 10 sampai 15 persen," ujar Ispan dalam keterangan tertulis yang diterima Republika di Mataram, NTB, Kamis (28/2).

Baca Juga

Menurut Ispan, kondisi saat ini sangat rumit dan kritis bagi kalangan pelaku usaha wisata. Bukan hanya karena pemulihan dari bencana gempa bumi yang belum selesai, namun banyak isu lain yang sangat memengaruhi minat kedatangan wisatawan ke NTB, khususnya ke Pantai Senggigi atau destinasi lainnya di Lombok Barat.

"Terakhir kemaren, isu rabies yang terjadi di Dompu, ikut memengaruhi seluruh NTB. Tapi sebenarnya faktor eksternal yang paling memengaruhi," kata Ispan. 

Faktor eksternal, lanjut Ispan, ada Pemilu yang akan berlangsung 17 April 2019 dan mahalnya harga tiket pesawat."Kita tidak bisa pungkiri perspektif orang terhadap semua pemilu itu kurang aman. Apalagi orang luar negeri yang akan berwisata, pasti memperhitungkan apek keamanan," ucap Ispan. 

Demikian juga dengan tiket pesawat yang saat ini masih mahal dari dan menuju Lombok."Coba lihat bandara kedatangan di BIL (Bandara Internasional Lombok). Sangat sepi," kata Ispan. 

Bupati Lombok Barat Fauzan Khalid yang juga hadir dalam rakornas berpandangan senada."Semua pihak harus peduli dengan pariwisata kita. Soal rabies, wartawan pun harus ikut memberi kenyamanan. Dompu (tempat wabah) itu kan jauh, tapi media mengeneralisir seakan-akan terjadi di seluruh NTB. Media juga harus punya tanggung jawab moral dengan mempertimbangkan efek pemberitaannya terhadap pariwisata kita," harap Fauzan.

Mengenai harga tiket pesawat, bagi Fauzan, telah berdampak kepada pariwisata secara nasional sehingga pemerintah pusat harus ikut mencari jalan keluarnya. 

Dengan kondisi seperti itu, menurut Fauzan, semua pihak mestinya terlibat aktif untuk mempromosikan kondisi daerah dengan menyebarluaskan Lombok sudah aman untuk dikunjungi.

"Tidak hanya aman dari gempa, tapi Lombok umumnya aman dari rabies, aman dari riak-riak Pemilu, dan punya destinasi alam dan budaya yang eksotik," ungkap Fauzan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement