Ahad 13 May 2018 16:14 WIB

Menkumham: Revisi UU Antiterorisme Mendesak

Pemerintah pusat akan mempercepat proses revisi UU Antiterorisme

Rep: Sapto Andika Candra/ Red: Esthi Maharani
Menkumham Yasonna Laoly menilai RUU Antiterorisme mendesak untuk diwujudkan, terlebih pascainsiden pengeboman sejumlah gereja di Surabaya pagi tadi.
Foto: Sapto Andika Candra / Republika
Menkumham Yasonna Laoly menilai RUU Antiterorisme mendesak untuk diwujudkan, terlebih pascainsiden pengeboman sejumlah gereja di Surabaya pagi tadi.

REPUBLIKA.CO.ID,  PADANG - Pemerintah pusat akan mempercepat proses pembahasan Revisi Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme (UU Anti-terorisme) untuk melawan aksi terorisme. Aksi pengeboman sejumlah gereja di Surabaya, Jawa Timur pada Ahad (13/5) menjadi alasan kuat agar UU Antiterorisme segera diwujudkan.

Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) Yasonna Laoly menilai, Revisi UU Antiterorisme sangat mendesak untuk diwujudkan. Baginya, molornya proses pembahasan Revisi UU Antiterorisme selama 1,5 tahun terakhir jangan malah memberi ruang bagi aksi teror.

"Saya sudah ingatkan jangan sampai ada insiden baru revisi UU Terorisme. Yang dulu diajukan pada waktu peristiwa Thamrin. Sesudah peristiwa Thamrin kami ajukan revisi, sekarang nyangkut. Makanya saya katakan ini harus dituntaskan," jelas Yasonna usai menghadiri peletakan batu pertama Pembangunan Gedung Gereja BNKP Jemaat Padang, Ahad (13/5).

Kemenkumham sendiri, lanjutnya, sudah berkoordinasi dengan kementerian lain dan parlemen untuk mempercepat penggodokan RUU Antiterorisme. Sejumlah poin yang sempat mengganjal dalam pembahasan RUU Antiterorisme, seperti peranan TNI dalam upaya pencegahan dan penanggulangan aksi teror dan definisi dari kata 'teroris' itu sendiri, diyakini Yasonna bisa segera disepakati.

"Yang jelas sesuai yang disekapati di Panja (RUU Antiterorisme) sebelumnya. Ini tak bisa dibiarkan berlarut," ujar Yasonna.

Sebelumnyaa, Yasonna juga menyampaikan keprihatinan atas insiden pengeboma tiga gereja di Surabaya pagi tadi. Namun, lanjutnya, Presiden Jokowi sudah meminta masyarakat agar tidak takut terhadap aksi teror yang sengaja dibangun para teroris melalui aksinya.

"Pemerintah akan berupaya menuntaskan masalah ini," katanya.

Seperti diketahui, ledakan bom terjadi di Surabaya, Ahad (13/5) pagi. Ledakan bom terjadi di tiga gereja yang ada di sana. Tiga gereja yang dimaksud adalah Gereja Kristen Indonesia (GKI) Diponegoro, Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) Jalan Arjuna, dan Gereja Santa Maria di Jalan Ngagel.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement