Jumat 22 Dec 2017 04:53 WIB

Sejumlah Catatan Buruk 2017 di Kehidupan Berbangsa Bernegara

Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid (tengah) saat melakukan sosialisasi empat pilar di Yayasan Alfida, Bengkulu, Kamis (21/12).
Foto: Rahma Sulistya/ Republika
Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid (tengah) saat melakukan sosialisasi empat pilar di Yayasan Alfida, Bengkulu, Kamis (21/12).

REPUBLIKA.CO.ID, BENGKULU -- Wakil Ketua MPR, Hidayat Nur Wahid, menilai selama 2017 masih ada catatan terkait dengan kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.

"Ada kondisi-kondisi dimana separatisme berkembang, komunisme kemudian ada yang memperjuangkan, radikalisme juga ada itu. Semuanya adalah kondisi tahun 2017, itu semuanya masih ada," kata Hidayat Nur Wahid di Bengkulu, Kamis, seusai sosialisasi empat pilar.

HNW juga menyatakan pada 2017, terdapat kondisi Islamphobia (ketakutan berlebihan terhadap umat Islam). Sehingga, seringkali mendiskreditkan Islam dengan stereotipe negatif seperti terorisme.

Begitu pula, menurut dia, muncul kondisi Indonesiaphobia. Yakni penolakan dan mengkafirkan segala hal berbau Indonesia, baik sistem negara, sistem parlemen, sistem partai politik dan segala hal dalam sistem politik Indonesia.

Untuk itu, ia mengatakan, ke depan sosialisasi Empat Pilar perlu terus ditingkatkan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat Indonesia dalam berbangsa dan bernegara, dan mengenal dan memahami ideologi negara Pancasila. Ia mengatakan, tanpa ideologi negara yang kuat, maka negara dapat hancur dan lenyap seperti Yugoslavia dan Uni Sovyet. Apalagi dengan semakin tingginya tantangan bangsa yang dihadapi.

"Karena itu, kita berharap dengan sosialisasi ini, terkoreksilah salah paham tentang Indonesia, Pancasila, Undang-Undang Dasar, untuk kemudian 2018 kita isi dengan lebih baik lagi,'' katanya. ''Apalagi 2018 adalah tahun politik, pilkada secara langsung juga kita penting, kemudian lagi-lagi tidak Islamofobia tidak juga Indonesiafobia, sehingga 2018 nanti betul-betul menghadirkan harmoni bagi Indonesia.''

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement