Senin 25 Apr 2016 20:43 WIB

Pedagang Kaki Lima Kota Tua Minta Pemerintah tak Asal Main Relokasi

Rep: c36/ Red: Esthi Maharani
Kota Tua
Foto: Wihdan Hidayat/Republika
Kota Tua

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ratusan pedagang kaki lima kawasan Kota Tua Jakarta meminta pemerintah provinsi (Pemprov) DKI Jakarta tidak asal melakukan relokasi kepada mereka. Pedagang meminta pemprov menyelesaikan lokasi tujuan sebelum memindahkan  mereka.

Salah seorang perwakilan pedagang, Ruslan, mengatakan ada sekitar 450 PKL di kawasan Kota Tua Jakarta. Pada November lalu, pemprov meminta secara tegas agar pedagang pindah ke Jalan Cengkeh yang masih berada di kawasan kota tua.

"Namun, saat kami lihat lokasi tujuan, ternyata belum sepenuhnya siap. Kami pun sepakat tak mau pindah," ujar Ruslan kepada Republika usai diskusi Rembuk Warga di Galeri Kantor Pos Indonesia, Senin (25/4).

Menurut dia, ada pertimbangan ekonomi yang dikhawatirkan pedagang saat lokasi relokasi belun siap. Para PKL mengaku tak sanggup menanggung risiko kerugian jika relokasi dilakukan tanpa persiapan.

Saat ini, PKL masih dapat bertahan berjualan di area pusat Kota Tua. Ke depannya, mereka berharap relokasi dilakukan setelah lokasi tujuan benar-benar siap ditempati.

"Kami mampu bertahan karena bantuan beberapa pihak. Selama ini kami hanya menerima pendataan pemprov, bukan diajak berdiskusi. Sosialisasi relokasi pun tidak dilakukan," tegas Ruslan.

Ditemui secara terpisah, Bupati Bojonegoro, Suyoto, berpendapat PKL Kota Tua tidak berniat untuk menolak relokasi. Dirinya melihat, para PKL hanya perlu diajak duduk bersama untuk memahami inti relokasi yang diisyaratkan Pemprov DKI.

Karenanya, pria yang disebut akan maju dalam Pilkada DKI 2017 ini menyarankan ada pembicaraan bersama antara warga dengan Pemprov DKI. Menurut Suyoto, yang diperlukan PKL adalah keterangan teknis mengenai relokasi.

"Sebaiknya memang ada pertemuan, warga diajak bicara. Relokasi itu persoalan publik. Maka, harus diselesaikan secara bersama, tidak boleh sepihak," tutur dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement