Rabu 30 Sep 2015 16:31 WIB

Para Penutur Asing nan Fasih Berbahasa Indonesia

Rep: Mutia Ramadhani/ Red: Ilham
Bahasa Indonesia
Foto: Republika/ Tahta Aidilla
Bahasa Indonesia

REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR -- Ada yang tampak berbeda dari Konferensi Internasional Pengajaran Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (KIPBIPA) tahun kesembilan yang digelar di Kuta, Bali, Rabu (30/9). Penutur asing dari sejumlah negara perwakilan Benua Asia, Australia, dan Eropa terlihat fasih menggunakan bahasa Indonesia di acara tersebut.

Di mata dunia, Bali sudah familiar menjadi tuan rumah untuk perhelatan acara skala global, mulai dari konferensi, workshop, pameran, hingga seminar internasional. Setiap pembukaan acara, bahkan seluruh materi lazimnya disajikan dalam bahasa Inggris. Namun, kali ini ternyata berbeda.

Ketua Penyelenggara KIPBIPA IX, M Budhowi menilai konferensi ini menjadi tanda penting untuk menyambut aktivitas internasional yang melibatkan Indonesia, khususnya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Bahasa indonesia adalah jati diri bangsa Indonesia yang harus diglobalkan dalam aktivitas ekonomi di kawasan regional Asia.

"Acara ini juga untuk mengetahui sejauh mana bahasa Indonesia dipelajari di luar negeri," katanya, Rabu (30/9).

Konferensi ini menghimpun permasalahan yang menyebabkan pasang surut minat pelajaran bahasa indonesia pada perguruan tinggi negeri atau swasta di berbagai negara dunia. Apalagi, tahun ini ada sekitar seribu mahasiswa asing yang belajar bahasa Indonesia di Indonesia.

Pakar bahasa dari Cina, Profesor Cai Jincheng mengatakan, Cina juga membuka kelas bahasa Indonesia. Banyak mahasiswa yang mempelajari bahasa Indonesia dipekerjakan di sana, meski mereka dinyatakan belum lulus sekalipun. "Ada PTN dan PTS yang berencana membuka program bahasa Indonesia," katanya.

Guru Besar Universitas Nasional Australia, Profesr George Quinn mengatakan, mahasiswa yang berminat belajar bahasa Indonesia di Australia sangat tinggi. Mereka rata-rata mnyukai budaya dan tradisi di Indonesia sehingga tertarik mengambil program kuliah bahasa Indonesia.

"Peminatnya sempat surut karena perkembangan suasana politik internal dan eksternal Australia dengan Indonesia," kata Quinn.

Wakil Gubernur Bali, I Ketut Sudikerta menambahkan acara ini berkontribusi positif dalam pengembangan pengalaman pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing. Tentunya ini sesuai kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar.

"Keberadaan penutur asing di Indonesia maupun luar negeri mempunyai peran penting," ujarnya.

Bahasa Indonesia sangat penting sebagai alat komunikasi di Bali yang juga destinasi pariwisata dunia. Bali, kata Sudikerta memiliki daya tariksendiri dimana banyak orang asing menetap, bekerja, dan belajar di Pulau Dewata.

Semakin banyaknya orang asing di Bali semestinya mendorong semakin tinggi minat berbahasa Indonesia. Jika perlu, kata Sudikerta bahasa Indonesia dijadikan salah satu syarat tes bagi perusahaan-perusahaan. Eksistensi bahasa Indonesia pun terjaga dengan baik.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement