Sabtu 28 Mar 2015 16:49 WIB

Agar Rakyat tak Apatis, Parlemen Harus Stop Kegaduhan Politik

Rep: Fauziah Mursid/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
  Ketua Fraksi PPP Hasrul Azwar (kiri) meninggalkan ruang rapat usai membalik meja rapat saat rapat paripurna terkait pengesahan alat kelengkapan dewan (AKD) di Gedung Nusantara II, DPR, Jakarta, Selasa (28/10).  (Republika/Agung Supriyanto)
Ketua Fraksi PPP Hasrul Azwar (kiri) meninggalkan ruang rapat usai membalik meja rapat saat rapat paripurna terkait pengesahan alat kelengkapan dewan (AKD) di Gedung Nusantara II, DPR, Jakarta, Selasa (28/10). (Republika/Agung Supriyanto)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-- Kekhawatiran adanya keapatisan masyarakat dalam Pilkada serentak mendatang harus segera dintisipasi semua pihak. Dalam hal ini Pemerintah maupun parlemen yang kerap melakukan kegaduhan politik harus bisa memperbaiki kinerjanya demi mengembalikan kepercayaan masyarakat.

"Kita minta perbaiki kinerja Parlemen agar dengan sendirinya memberi harapan ke masyarakat untuk tidak apatis lagi," ujar Pengamat dari Komite Pemilihan Indonesia (Tepi) Jeirry Sumampow kepada ROL, Sabtu (28/3).

Ia mengatakan saat ini masyarakat telah jenuh dengan ulah para pelaku para pemangku kepentingan. Jika kondisi itu diteruskan, tentu akan berdampak pada kepercayaan masyarakat kepada pada pemilihan umum selanjutnya di Indonesia.

"Kalau sampe begitu seterusnya, parlemen akan lebih banyak ngurusin urusan politik, daripada masyarakat, saya pesimis, ini akan stabil sampai pelaksanaan Pilkada nanti," ujarnya.

Untuk itu kata Jeirry, sudah sepantasnya para pelaku kepentingan segera memperbaiki kinerjanya agar semata-mata demi kepentingan rakyat. Ia mengimbau semua pihak tidak melupakan tugas dan fungsi sesuai dengan kepercayaan masyarakat yang telah memilihnya.

"Parlemen itu sekarang justru dinilai mengganggu pemerintah daripada mementingkan rakyat, yang terjadi kan sekarang itu gitu lebih banyak mengganggu pemerintah, bukan dalam konteks mengadvokasi kepentingan masyarakat," katanya

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement